'Pesta' yang Berubah Jadi Ledakan Maut di Meksiko

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Minggu, 20/01/2019 11:42 WIB
'Pesta' yang Berubah Jadi Ledakan Maut di Meksiko Awalnya ratusan orang berupaya menampung bahan bakar dari pipa yang bocor di Meksiko, namun kemudian ledakan terjadi. (National Defence Secretary/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suka cita masyarakat Tlahuelilpan, negara bagian Hidalgo, Meksiko berubah menjadi horor saat Jumat (18/1) malam pipa bahan bakar di Meksiko meledak dan 'membunuh' setidaknya 73 orang. Diduga pipa itu pecah dan akhirnya meledak akibat ulah pencuri bahan bakar.

Isaias Garcia ingat betul betapa orang-orang ramai menyerbu pipa yang bocor untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka. Saat itu mendapatkan bahan bakar di pom bensin memang sulit.

Namun tak lama kemudian, sang saksi mata yang berusia 50 tahun itu menceritakan, ratusan warga yang tengah menampung bahan bakar dari pipa bocor itu berhamburan ke segara arah. Ledakan terdengar, dan dalam sekejap menyambar pakaian serta melukai mereka.


"Beberapa orang berlarian, terbakar, dan menjerit," ujar Garcia seperti dikutip Reuters.


Wartawan lokal, Veronica Jimenez mennyampaikan hal serupa. Awalnya, ia yang tiba di tempat kejadian sebelum ledakan terjadi, melihat warga bak 'berpesta.' Ada lebih dari 300 orang membawa kontainer untuk mengumpulkan bahan bakar dari pipa yang bocor.

"Saya melihat keluarga, ada ibu, ayah, anak-anak. Kondisinya seperti pesta. Untuk sesaat kita bisa mendengar betapa bahagianya orang-orang yang datang," katanya kepada Reuters.

Seperti kata Garcia sebelumnya, keceriaan itu lenyap dalam sekejap. Orang-orang langsung berlarian ke arah berbeda, menangis dan memohon bantuan. Beberapa dari mereka terbakar.

"Mereka meneriakkan nama-nama suami, saudara lelaki mereka, anggota keluarga mereka."

[Gambas:Video CNN]

Setelah ledakan usai, petugas forensik terlihat memasukkan sisa-sisa tubuh manusia yang hangus terbakar ke dalam kantong mayat. Ledakan itu menjadi insiden paling mematikan untuk kecelakaan infrastruktur minyak Meksiko dalam beberapa tahun terakhir.

Selain 73 orang meninggal, Gubernur Hidalgo Omar Fayad mengatakan masih ada 74 orang terluka akibat ledakan itu. Fayad menuturkan kondisi korban luka semakin memburuk lantaran sebagian besar tubuhnya terbakar. Ada pula beberapa korban yang merupakan anak di bawah umur akhirnya dipindahkan ke rumah sakit Galveston, Texas karena luka bakar yang parah.

Jaksa Agung Hidalgo Raul Arroyo pun mengatakan, 54 mayat dalam kondisi terbakar sangat parah, sehingga mereka butuh waktu lama untuk identifikasi korban.

Lebih dari 100 orang berkumpul di pusat kebudayaan pada Sabtu sore waktu setempat. Mereka berharap mendapat informasi tentang keluarga yang hilang. Pejabat setempat terus menginformasikan hasil tes DNA untuk identifikasi dan daftar korban yang dibawa ke rumah sakit.


Presiden Meksiko Lopez Obrador memerintahkan untuk menutup pipa bahan bakar pada akhir Desember. Tindakan keras Obrador terhadap pencurian bahan bakar dilakukan untuk mengatasi korupsi di Meksiko. Ia juga ingin menghentikan kebocoran keran ilegal yang menyedot miliaran dolar dari perusahaan minyak negara yang dililit utang, Petroleos Mexicanos (Pemex).

Namun, kebijakan itu menyebabkan warga Meksiko Tengah, termasuk Hidalgo, kekurangan bahan bakar. Media lokal menyebut pada Minggu, lebih dari separuh pompa bensin tutup.

Kepala Eksekutif Pemex Octavio Romero mengungkapkan ada 10 keran bahan bakar ilegal di Hidalgo dalam tiga bulan terakhir saja. Namun demikian, baik Romero maupun Obrador tidak mengatakan kapan rencananya katup ke pipa itu akan ditutup.

Usai kejadian itu, Obrador berjanji akan memperketat keamanan di bagian infrastruktur minyak, terutama pipa pecah yang berlokasi tak jauh dari sebuah kilang minyak besar. (ulf/rsa)