Venezuela Tahan Lima Wartawan Asing Peliput Krisis Politik

CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 14:42 WIB
Venezuela Tahan Lima Wartawan Asing Peliput Krisis Politik Ilustrasi penjara. (Istockphoto/menonsstocks)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aparat Venezuela menahan lima wartawan asing yang tengah meliput krisis politik di negara itu. Mereka terdiri dari dua wartawan dari Perancis, dua lainnya dari Kolombia, dan satu orang berasal dari Spanyol.

Dua wartawan Kolombia dan seorang dari Spanyol bekerja untuk kantor berita Efe asal Negeri Matador. Kepala biro Efe di Kolombia, Nelida Fernandez, mengatakan ketiganya sengaja dikirim ke Venezuela untuk meliput krisis politik dan ekonomi yang semakin pelik.

Sementara itu, dua wartawan Perancis bekerja untuk program televisi Quotidien dan ditahan sejak Selasa (29/1) lalu. Selain kelima jurnalis tersebut, dua wartawan televisi asal Chili telah lebih dulu ditahan dan dideportasi.
Menteri Luar Negeri Chili, Roberto Ampuero mengatakan dua warganya itu ditangkap pada Selasa malam di dekat istana presiden. Dia menuturkan otoritas Venezuela beralasan penangkapan dilakukan karena kedua wartawan itu meliput di "zona keamanan".


Ampuero menuturkan mereka ditahan selama 14 jam sebelum diusir dari Venezuela.

"Inilah yang dilakukan kediktatoran. Menginjak kebebasan pers," ucap Ampuero melalui Twitternya, seperti dikutip AFP pada Kamis (31/1).

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wartawan asing ditahan dan diusir dari Venezuela. Rezim pemerintah setempat beralasan pengusiran dilakukan karena para jurnalis itu tak memiliki izin pers.
Tanpa menyinggung penangkapan terbaru, Menlu Venezuela Jorge Arreaza mengatakan para wartawan asing telah memasuki negaranya tanpa izin kerja yang semestinya.

Krisis politik Venezuela semakin pelik terutama setelah Presiden Majelis Nasional, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai pemimpin interim negara di Amerika Selatan itu dan menantang rezim Maduro.

Guaido juga telah meminta militer membelot dari rezim pesaingnya dengan imbalan amnesti.
Langkah Guaido didukung sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jerman, Kanada, hingga Brasil, dan Kolombia. Hal itu juga membuka kemungkinan bagi pihak ketiga menjadi penengah bagi kedua belah pihak yang tengah bertikai.

Kemelut semakin rumit saat sejumlah pihak, termasuk Amerika Serikat mengakui kepemimpinan politikus berusia 35 tahun itu. Di sisi lain, Rusia yang menjadi sekutu rezim terus mendukung Maduro. (rds/ayp)