Batal Bertarung dalam Pemilu, Kakak Raja Thailand Minta Maaf

CNN Indonesia | Rabu, 13/02/2019 09:39 WIB
Batal Bertarung dalam Pemilu, Kakak Raja Thailand Minta Maaf Putri Ubolratana Rajakanya, kakak Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn, minta maaf karena memicu masalah usai didiskualifikasi dari bursa calon PM dalam pemilu. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Putri Ubolratana Rajakanya Sirivadhana Barnavadi, kakak sulung Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn, meminta maaf karena memicu "permasalahan" setelah didiskualifikasi dari bursa calon perdana menteri dalam pemilihan umum pada Maret mendatang.

"Saya minta maaf maksud tulus saya untuk bekerja bagi negara dan rakyat Thailand menyebabkan masalah yang seharusnya tidak terjadi pada era ini," kata Ubolratana melalui Instagram, Selasa (12/2).

Ubolratana menyampaikan pernyataan ini sehari setelah Komisi Pemilihan Umum Thailand mencoret namanya dari daftar calon perdana menteri.
Pencalonan Ubolratana ini memang memicu perdebatan di Thailand karena undang-undang di negara tersebut melarang keterlibatan monarki dalam kampanye politik.


Ubolratana sempat melepaskan titel kerajaannya saat menikahi seorang warga Amerika Serikat beberapa dekade lalu. Namun, Ubolratana kemudian bercerai dan kembali ke Thailand, di mana ia masih dianggap sebagai bagian dari keluarga kerajaan.

Vajiralongkorn pun menyatakan tidak sepakat dengan keputusan Ubolratana untuk terjun ke dunia politik karena bertentangan dengan tradisi.

"Seluruh keluarga kerajaan harus menaati aturan yang berlaku dan tidak terjun dalam kegiatan politik karena itu bertentangan dengan tujuan undang-undang dasar," tulis Vajiralongkorn dalam pernyataannya.

[Gambas:Video CNN]

Tak hanya mendobrak aturan negara, pencalonan Ubolratana juga menjadi sorotan karena ia diusung Partai Thai Raksa Chart, partai besutan para loyalis mantan perdana menteri, Thaksin Shinawatra.

Saat menjabat, Thaksin dan para loyalisnya kerap dituding menentang monarki, memicu bentrokan dengan pendukung kerajaan hingga pecah kudeta militer yang dipimpin oleh Prayut Chan-o-cha pada 2014 lalu. (has/has)