Iran Janji Balas Serangan Bom, Tuding AS-Israel Dalang Teror

CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 20:31 WIB
Iran Janji Balas Serangan Bom, Tuding AS-Israel Dalang Teror Presiden Iran, Hassan Rouhani. (REUTERS/Danish)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Iran, Hassan Rouhani, menyatakan akan membalas dendam atas ledakan bom mobil yang menewaskan 27 pasukan Garda Revolusi. Dia juga menuduh AS dan Israel adalah dalang di balik kejadian itu.

"Kami pasti akan membuat kelompok tentara bayaran ini membayar darah para martir kami. Akar utama terorisme di kawasan ini adalah Amerika dan Zionis, dan beberapa negara penghasil minyak di kawasan itu juga secara finanasial mendukung para teroris," kata Rouhani, seperti dilansir AFP, Kamis (14/2).

Bom mobil itu meledak di sebelah sebuah bus yang sedang mengangkut pasukan Garda Revolusi di Provinsi Sistan-Baluchistan. Insiden terjadi ketika pasukan baru kembali dari misi patroli di perbatasan dekat Pakistan, basis kelompok separatis Baluchi.


Sistan-Baluchistan adalah kawasan perbatasan dan tempat bermukim etnis Baluchi. Mereka adalah pemeluk Muslim Sunni, berbeda dari orang Iran kebanyakan yang merupakan Muslim Syiah.


Rouhani meminta negara tetangga mereka untuk sama-sama memikul tanggung jawab untuk tidak mengizinkan teroris menggunakan tanah mereka untuk menyiapkan serangan.

"Jika ini terus berlanjut dan mereka tidak dapat menghentikan teroris, jelas berdasarkan pada hukum internasional, kami memiliki hak-hak tertentu dan akan menindaknya pada waktunya," katanya.

Menurut lembaga analisis terorisme, SITE Intelligence Group, pemboman telah diklaim oleh kelompok Jaish al-Adl (Tentara Keadilan), yang masuk dalam daftar teroris oleh Iran.


Kelompok ini dibentuk pada 2012 sebagai penerus kelompok Jundullah (Prajurit Tuhan), yang melakukan pemberontakan di Iran selama dekade sebelumnya. Aksi teror kerap terjadi di sana.

Pada 29 Januari, tiga anggota regu bom Iran yang dikirim ke lokasi ledakan di ibu kota provinsi Zahedan terluka, setelah bom kedua meledak ketika mereka berusaha menjinakkannya.

Awal Desember 2018, dua orang tewas dan sekitar 40 lainnya cedera dalam serangan di kota Chabahar.


Pada Oktober 2018, Jaish al-Adl mengaku bertanggung jawab atas penculikan 12 aparat keamanan Iran di dekat perbatasan. Lima di antaranya kemudian dibebaskan dan diterbangkan pulang setelah dibantu Pakistan. (ham/ayp)