AS Kirim Keluarga Pencari Suaka Pertama ke Meksiko

CNN Indonesia | Jumat, 15/02/2019 22:23 WIB
AS Kirim Keluarga Pencari Suaka Pertama ke Meksiko Ilustrasi imigran Amerika Tengah. (Reuters/Loren Elliott)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat dilaporkan mulai mengirim satu keluarga pencari suaka dari Amerika Tengah untuk kembali ke Meksiko pada pekan ini selagi menunggu proses keimigrasian.
 
Seorang petugas Imigrasi Meksiko mengonfirmasi bahwa lima keluarga dengan total 16 orang, termasuk anak-anak dari El Salvador, Honduras dan Guatemala, tiba di Tijuana, kota perbatasan Meksiko pada Rabu (13/2).

Pemulangan ini dilakukan sesuai regulasi yang berlaku pada akhir Januari lalu. Di bawah program itu, AS mengirim kembali migran non-Meksiko yang menyeberang ke AS untuk kembali ke Meksiko sembari menunggu proses suaka.
Program itu disebut dengan Protokol Perlindungan Migran. Namun, sampai pada minggu ini, hanya orang dewasa yang dikirim kembali, bukan anak anak.

Sumber dari pemerintah mengatakan bahwa sejauh ini, telah ada enam puluh tiga pencari suaka yang kembali ke Meksiko di bawah program ini. Dua tempat penampungan di Tijuana juga mengaku telah menerima beberapa keluarga pencari suaka.
 
Kelompok-kelompok HAM mengatakan bahwa program itu akan membahayakan para pencari suaka karena wilayah perbatasan Meksiko memiliki tingkat kekerasan yang tinggi.
 
"Baik pemerintah AS dan Meksiko tahu bahwa wilayah perbatasan tidak aman bagi perempuan dan anak-anak," kata Michelle Brane, Direktur Hak dan Keadilan Migran di Komisi Pengungsi Perempuan (WRC).
 
"Pemerintah AS tahu betul bahwa keluarga pencari suaka bukanlah ancaman bagi bangsa ini," tambahnya.
The American Civil Liberties Union dan kelompok-kelompok hak imigran mengajukan gugatan atas nama 11 imigran pada Kamis (14/2) kemarin.


Kelompok-kelompok tersebut meminta hakim untuk mencabut kebijakan dan meminta pemerintah membawa kembali para imigran kembali ke AS sembari menunggu proses izin tinggalnya.
 
Menurut pengaduan, ada 11 imigran dari Amerika Tengah dikembalikan ke Meksiko sejak 30 Januari untuk menunggu izin tinggal. Mereka sekarang hidup dengan rasa ketakutan atas keselamatan nyawa mereka.
 
Salah satu penggugat yang merupakan seorang lesbian mengaku bahwa dia telah diperkosa karena orientasi seksualnya dan terpaksa kabur dari Honduras setelah keluarga pasangannya mengancam akan membunuh mereka.
Gugatan tersebut menuduh kebijakan itu membahayakan para imigran dan telah melanggar hukum imigrasi dan administrasi AS, serta norma universal hukum interasional.
 
Seorang juru bicara Kementerian kehakiman AS mengatakan pemerintah akan membela kebijakannya di pengadilan.
 
"Kongres secara eksplisit telah memberi wewenang kepada Kementerian Keamanan Dalam Negeri untuk mengembalikan orang asing yang datang dari wilayah asing yang berdekatan ke wilayah tersebut selama proses pengadilan imigrasi orang asing itu," kata Steven Stafford dari Kementerian Kehakiman AS.
 
Dalam ketegangan politik lain terkait imigrasi, Gedung Putih pada Kamis (14/2) menyatakan bahwa Presiden Donald Trump akan mengumumkan keadaan darurat nasional untuk mencoba mendapatkan dana pembangunan tembok di sepanjang perbatasan dengan Meksiko. (ham/has)