Putri Rima, Dari Bangsawan Aktivis Menjadi Diplomat

CNN Indonesia | Senin, 25/02/2019 13:46 WIB
Putri Rima, Dari Bangsawan Aktivis Menjadi Diplomat Putri Rima binti Bandar Al Saud. (AFP PHOTO / IAN TIMBERLAKE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arab Saudi membuat sejarah baru dengan menunjuk Putri Rima binti Bandar Al Saud sebagai duta besar untuk Amerika Serikat pada Sabtu (23/2) pekan lalu. Dia merupakan perempuan pertama yang diberi tugas sebagai duta besar Saudi.

Perempuan berusia 43 tahun itu menggantikan posisi yang sebelumnya diduduki oleh Pangeran Khalid bin Salman. Adik Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) itu saat ini diangkat menjadi Wakil Menteri Pertahanan Saudi, mendampingi sang kakak yang merupakan Menteri Pertahanan.

Selama ini Rima dikenal sebagai pegiat sosial dan advokat hak perempuan di Saudi. Sebelum diangkat sebagai diplomat, Rima pernah bekerja di Lembaga Olahraga Saudi.


Di lembaga tersebut, Rima memimpin kampanye untuk meningkatkan keikutsertaan perempuan dalam olahraga, meski ditentang kalangan kolot Saudi. Dia juga kerap berkampanye secara aktif untuk meningkatkan kesadaran kaum perempuan Saudi tentang bahaya kanker payudara.
Di samping kegiatan sebagai seorang pegiat, Putri Rima juga seorang wirausaha. Ibu dari dua anak tersebut pernah menjabat sebagai kepala eksekutif perusahaan gaya hidup mewah, Harvey Nichols, di Riyadh.

Dikutip AFP, Senin (25/2), Rima tak memiliki pengalaman diplomatik. Dia hanya pernah tinggal di AS ketika sang ayah, Pangeran Bandar bin Sultan, menjadi duta besar Saudi di Washington pada 1983 sampai 2005.

Dengan modal itu, pejabat Saudi yang mengenalnya menganggap perempuan lulusan jurusan seni Mount Vernon College, George Washington University, itu dianggap cukup paham terkait panggung politik AS.

Putri Rima juga selama ini bekerja sebagai penasihat MbS, yang belakangan menghadapi kritik keras dari anggota parlemen AS atas dugaan keterlibatannya dalam pembunuhan seorang jurnalis, Jamal Khashoggi.

Khashoggi merupakan wartawan koresponden The Washington Post yang kerap mengkritik MbS dan sang ayah, Raja Salman. Dia tewas dibunuh di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.

Meski sempat menyangkal, Saudi akhirnya mengakui Khashoggi tewas di dalam konsulatnya itu dan bahkan jasadnya telah dimusnahkan.

Meski demikian, Riyadh berkeras membantah tak terlibat. Mereka menyatakan peristiwa itu adalah konspirasi yang disebut dilakukan pejabat Saudi di luar kewenangan mereka itu. Padahal Badan Intelijen AS (CIA) menyimpulkan MbS yang memerintahkan pembunuhan tersebut, berdasarkan rekaman hasil sadapan yang mereka peroleh.
Putri Rima yang fasih berbahasa Inggris menjadi salah satu pembela MbS yang cukup vokal. Dia menganggap reformasi yang dibawa MbS sejak menjabat sebagai putra mahkota sejak 2017 lalu itu telah membawa banyak perubahan, termasuk peningkatan pemberdayaan hak perempuan.

Putri Rima menganggap pencabutan larangan menyetir bagi perempuan Saudi beberapa waktu lalu merupakan "evolusi, bukan pembaratan (westernisasi)."

"Anda meminta kami untuk berubah, tetapi kemudian ketika kami menunjukkan perubahan, Anda datang kepada kami dengan sikap sinisme," ucap Rima dalam Forum Ekonomi Dunia terakhir.

Meski kerap memperjuangkan hak perempuan Saudi, Putri Rima disebut gagal membela sejumlah aktivis perempuan yang ditahan aparat Saudi pada Mei lalu
Putri Rima juga enggan mengomentari penangkapan itu secara terbuka ke publik. (rds/ayp)