Korban Kecewa Hasil KTT Vatikan soal Skandal Pelecehan Seks

CNN Indonesia | Senin, 25/02/2019 23:48 WIB
Korban Kecewa Hasil KTT Vatikan soal Skandal Pelecehan Seks Pemimpin Tahta Suci Vatikan, Paus Fransiskus. (REUTERS/Max Rossi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konferensi Vatikan yang membahas pelecehan seksual di kalangan Gereja Katolik berakhir pada Minggu (24/2) pekan lalu. Namun, sejumlah korban merasa hasilnya jauh dari harapan mereka dan kecewa terhadap pemimpin Tahta Suci, Paus Fransiskus.

Seperti dilansir AFP, Senin (25/2), Paus Fransiskus menutup konferensi itu dengan khotbah yang membandingkan pedofilia dengan 'pengorbanan manusia'.

"Jika di Gereja harus muncul bahkan satu kasus pelecehan, yang dengan sendirinya sudah merupakan kekejaman, kasus itu akan ditangani dengan serius," kata Paus Fransiskus.


Paus Fransiskus menyatakan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur adalah fenomena yang tersebar luas di semua budaya dan masyarakat. Dia menyebut para pendeta yang memangsa anak-anak sebagai 'perpanjangan Setan'.
"Saya membuat seruan tulus untuk memerangi pelecehan terhadap anak di bawah umur baik secara seksual maupun yang lainnya, karena kita sedang berurusan dengan kejahatan keji yang harus dihapus dari muka bumi," katanya.

Paus Fransiskus menyatakan bakal menerbitkan aturan "Motu Proprio" mengenai perlindungan anak di bawah umur dan orang-orang rentan.

"Motu Proprio adalah dokumen hukum atau dekrit yang dikeluarkan di bawah otoritas pribadi Paus, yang kali ini akan memperkuat pencegahan dan perang melawan pelecehan di pihak Kuria Romawi dan Negara Kota Vatikan," kata moderator KTT, Federico Lombardi.

Paus Fransiskus juga ingin membentuk satuan tugas untuk membantu paroki setempat memerangi pendeta pedofilia pendeta, dan akan menyusun pedoman bagi para uskup dalam menangani kasus-kasus pelecehan.

[Gambas:Video CNN]

Akan tetapi, para korban dan pegiat yang membantu mengungkap kasus pelecehan Gereja Katolik mengaku kecewa dengan hasil KTT Vatikan itu. Mereka merasa hal itu normatif dan tidak ada terobosan berarti.

"Pidato itu berbicara tentang Iblis, berbicara tentang kejahatan, tidak ada pembicaraan tegas menindak pemerkosa dan pelaku kekerasan terhadap anak-anak yang merupakan abdi Gereja," kata Peter Saunders dari Inggris.

Peter merupakan korban pelecehan dan telah mengundurkan diri dari komisi penasihat Vatikan dalam pemberantasan pelecehan.

Wakil Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Bishop Accountability, Anne Barrett Doyle, juga menyatakan kekecewaannya atas hasil KTT Vatikan itu.
"Perkataan Paus Fransiskus hari ini merupakan kekecewaan yang luar biasa, kesalahan dalam menilai kesedihan dan kemarahan dari para jemaatnya," kata Doyle.

"Jika kesaksian kuat pada minggu lalu telah membawa perubahan ke arah yang benar, Paus hari ini telah mengembalikannya ke tempat semula," ujar Doyle.

Pengamat Vatikan, Marco Politi, mengatakan saat ini masyarakat harus melihat apakah benar Vatikan menaati janjinya serius memerangi pelecehan seksual. Menurut dia, jika hal itu tidak terjadi atau malah jalan di tempat maka itikad Paus Fransiskus untuk memecahkan masalah itu patut dipertanyakan.
"Jika tidak dibentuk struktur untuk menerima pengaduan dan mengatasi kebutuhan para korban, maka skandal yang akan muncul berikutnya tidak hanya akan terkait dengan gereja lokal tetapi juga kredibilitas kepausan," katanya. (syf/ayp)