AS Dilaporkan Makin Gencar Intai Venezuela Melalui Udara

CNN Indonesia | Selasa, 26/02/2019 15:22 WIB
AS Dilaporkan Makin Gencar Intai Venezuela Melalui Udara Ilustrasi pesawat intai P-8A Poseidon AS (U.S. Navy via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dilaporkan menambah frekuensi penerbangan pesawat pengintai di wilayah udara internasional di lepas pantai Venezuela selama beberapa hari terakhir. Menurut dua pejabat Kementerian Pertahanan AS, operasi itu dilakukan untuk mengumpulkan informasi rahasia terkait pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.

Seperti dilansir CNN, Selasa (26/2), para pejabat Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) tidak bersedia memberikan rincian lebih lanjut terkait kegiatan pesawat mata-mata militer itu. Namun, Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS terus menyiagakan beberapa pesawat yang mampu mencegat arus komunikasi dan memantau persenjataan Venezuela.

Menurut mereka kegiatan spionase itu hanya dilakukan di atas wilayah udara internasional.


Beberapa pejabat militer AS terus menekankan sampai saat ini belum ada pilihan menggunakan kekuatan militer untuk menyudahi krisis Venezuela. Untuk saat ini, AS baru bisa membalas jika aset, personel, atau kedutaan besar AS diserang.
Krisis politik Venezuela sampai saat ini belum juga berakhir. Hal ini dipicu oleh sikap Guaido yang secara aklamasi menyatakan sebagai pemimpin interim Venezuela. Dia melakukan itu dengan alasan Maduro gagal memenuhi janji untuk menggelar pemilihan umum dalam waktu yang sudah ditetapkan.

Krisis ini juga imbas dari kejatuhan ekonomi akibat inflasi yang tak terkendali. Alhasil, nilai mata uang Venezuela ambruk dan memicu tingkat kemiskinan melonjak. Rakyat juga tidak bisa membeli barang-barang kebutuhan pokok yang mengakibatkan kerusuhan.

Guaido telah meminta negara-negara lain untuk mengirim bantuan ke negara itu sebagai akibat dari kelangkaan makanan dan obat-obatan. Maduro menyangkal adanya krisis kemanusiaan di Venezuela dan mengatakan upaya bantuan itu merupakan bagian dari upaya kudeta.
Selama akhir pekan, terjadi kekerasan disaat militer Venezuela memblokade konvoi bantuan di perbatasan negara itu. Tepatnya di negara bagian Tachira, di sepanjang perbatasan dengan Kolombia, lebih dari 300 orang terluka dalam bentrokan yang melibatkan senjata api dan bom molotov.

Utusan khusus pemerintah Venezuela untuk negara bagian Tachira, Freddy Bernal, mengatakan serangan itu dilakukan oleh kelompok non-militer yang memprotes pemerintah Maduro pada jembatan internasional di sepanjang perbatasan antara Venezuela dan Kolombia. Yaitu jembatan Simon Bolivar di San Antonio dan jembatan Francisco de Paula Santander di Ureña.

[Gambas:Video CNN]

"Tidak terdapat korban jiwa meskipun terjadi serangan kekerasan selama lebih dari 15 jam oleh kelompok-kelompok yang bertarung di jembatan internasional melawan ribuan patriot yang berjuang dan membela diri mereka," katanya. (syf/ayp)