Trump Disebut Gemar Ancam Pihak Lain Demi Kepentingan Pribadi

CNN Indonesia | Jumat, 01/03/2019 02:48 WIB
Trump Disebut Gemar Ancam Pihak Lain Demi Kepentingan Pribadi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (REUTERS/Joshua Roberts)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan pengacara Donald Trump, Michael Cohen, mengatakan Presiden Amerika Serikat ke-45 itu telah memerintahkannya membuat 500 ancaman selama 10 tahun terakhir.

Pernyataan itu diutarakan Cohen saat bersaksi di hadapan Komite Pengawasan Dewan Perwakilan AS pada Rabu (27/2).

"Berapa kali Presiden Trump memerintahkan Anda untuk mengancam seseorang atau entitas atas nama dirinya?" tanya seorang anggota Dewan Perwakilan fraksi Partai Demokrat dalam komite tersebut, Jackie Speier, kepada Cohen, seperti dilansir Reuters.


"Cukup sering," jawab Cohen.

"50 kali?"
"Lebih."

"100 kali? 200 Kali?"

"Lebih"

"500 kali?"

"Mungkin," jawab Cohen.

Cohen juga mengatakan ancaman yang dibuat Trump itu tak jarang melibatkan proses pengadilan atau "pertikaian dengan wartawan jahat terkait artikel yang sedang ditulis."

Dalam kesempatan itu, Cohen juga memberikan salinan surat yang ditulisnya berisikan perintah Trump yang mengancam sekolah menengah dan perguruan tinggi untuk tidak mengungkap nilai-nilainya.
"Kami akan meminta pertanggungjawaban institusi Anda sepenuhnya termasuk dampak dan kriminalitasnya," bunyi surat yang ditujukan kepada Universitas Fordham.

Dalam dengar pendapat, seorang anggota komite dari Partai Republik, Jim Jordan, turut mengungkit pelecehan dan ancaman yang pernah Cohen utarakan terhadap salah satu reporter Daily Beast pada 2015 lalu.

Cohen berdalih ancaman itu dibuat untuk melindungi Trump dari pemberitaan yang negatif.

Speier juga menanyakan Cohen terkait pembelian artikel berisikan kesaksian mantan model majalah Playboy, Karen McDougal, terkait hubungannya dengan Trump yang dibuat American Media Inc., penerbit tabloid National Enquirer, agar cerita itu tidak diterbitkan.

Media itu dipimpin oleh kerabat Trump, David Pecker.
"Jadi dia (Trump) membayar seseorang untuk cerita soal seorang anak yang tidak pernah ada?" tanya Speier merujuk pada salah satu cerita tersebut.

"Benar," jawab Cohen.

American Media memaparkan Pecker bertemu dengan Cohen dan salah satu anggota tim kampanye Trump pada Agustus 2015. Pecker menawarkan tidak akan merilis kisah hubungan Trump dengan McDougal jika politikus Partai Republik itu mau membeli hak atas artikel tersebut.

Lebih lanjut, Cohen mengakui semua kebohongan Trump dan menyatakan menyesal karena mengikuti perintah mantan kliennya itu. Cohen menuturkan dia juga terpaksa berbohong kepada Ibu Negara, Melania Trump, terkait uang tutup mulut yang dibayarkan Trump kepada aktris porno, Stormy Daniels.

"Berbohong kepada ibu negara adalah salah satu penyesalan terbesar saya," katanya.

Cohen menggambarkan Trump sebagai seorang bos yang "memabukkan" dan "penipu" yang mampu berbohong tanpa ragu.
Dia juga menyesali kesetiaannya selama ini kepada Trump. Cohen juga mengaku malu turut menyembunyikan perbuatan ilegal Trump selama ini. (rds/ayp)