Netanyahu Bakal Diadili, Berdalih Jadi Korban Politik

CNN Indonesia | Jumat, 01/03/2019 10:24 WIB
Netanyahu Bakal Diadili, Berdalih Jadi Korban Politik PM Israel, Benjamin Netanyahu. (REUTERS/Menahem Kahana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, beralasan tuduhan korupsi terhadapnya selama ini merupakan pembunuhan karakter yang ditujukan untuk menggulingkan rezimnya. Dia mengatakan tetap ingin memegang jabatan itu untuk waktu yang lama, meski saat ini posisinya sedang terancam karena bakal didakwa atas skandal rasuah.

"Kaum poros kiri tahu bahwa mereka tidak bisa mengalahkan kami (poros kanan) dalam pemilu. Jadi selama tiga tahun terakhir, mereka terus melakukan pembunuhan karakter yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan itu dilakukan untuk satu tujuan, untuk menggulingkan pemerintah sayap kanan yang saya pimpin," kata Netanyahu pada Kamis (28/2).

Pernyataan itu diutarakan Netanyahu dalam sebuah wawancara di televisi nasional, beberapa jam setelah Jaksa Agung Israel, Avichai Mandelblit, berencana mendakwanya atas tuduhan korupsi.


Rencana mendakwa Netanyahu terjadi enam pekan menjelang pemilihan umum yang akan berlangsung April mendatang.
Dalam wawancara tersebut, raut wajah Netanyahu tampak murung terutama saat dirinya bercerita tentang keluarganya yang terus diinterogasi terkait penyelidikan kasus korupsi.

Dia menuduh lawan-lawan politiknya memberikan tekanan terus menerus dan tak manusiawi pada Mandelblit, sehingga terpaksa mempertimbangkan untuk menjatuhkan dakwaan terhadap dirinya.

"Hal utama adalah untuk mempengaruhi pemilu, bahkan kita tahu bahwa permainan ini akan sepenuhnya berakhir setelah pemilihan," papar Netanyahu seperti dikutip AFP.

Tuduhan korupsi telah menjerat Netanyahu sejak awal 2017 lalu. Dia diduga terlibat dalam tiga kasus korupsi yang berbeda.

Pertama, Case 1000. Dalam perkara ini Netanyahu dan keluarganya dituduh menerima gratifikasi berupa sampanye, cerutu, dan sejumlah perhiasan dari produser Hollywood yang merupakan warga Israel, Arnon Milchan, dan pebisnis asal Australia, James Packer, dalam kurun waktu 2007 sampai 2016.
Hadiah-hadiah itu disebut diberikan kepada Netanyahu sebagai imbalan karena telah memberikan "bantuan politik." Hingga kini, penyelidikan polisi masih berkutat untuk mengungkap bantuan politik seperti apa yang diberikan oleh Netanyahu.

Kasus kedua disebut Case 2000. Netanyahu dituduh melobi Arnon Mozes, seorang pemilik surat kabar ternama Israel, Yedioth Ahronoth, terkait permintaan pemberitaan positif. Sebagai gantinya, Netanyahu yang berkuasa sejak 2009 bersekongkol dengan menerbitkan aturan pemerintah dan sejumlah cara lain untuk menekan pertumbuhan surat kabar pesaing Yediot, Israel Hayom.

Dalam perkara kedua, Netanyahu bersama Mozes disangka terlibat suap, rekayasa, dan penyalahgunaan wewenang.

Perdana Menteri Israel kesembilan itu juga terjerat skandal korupsi Case 4000. Dalam kasus ini, Netanyahu dituding memberikan kelonggaran regulasi bagi perusahaan telekomunikasi Israel, Bezeq Telecom.

Dikutip Reuters, sebagai imbalan, Netanyahu dan sang istri, Sara, mendapat pemberitaan positif dari sebuah portal berita Walla yang terkait dengan Bezeq Telecom.
Meski telah diperiska sebanyak sembilan kali, Netanyahu belum juga ditetapkan statusnya sebagai tersangka. Kepolisian bahkan telah dua kali merekomendasikan jaksa untuk segera mendakwanya karena bukti sudah cukup.

Sementara itu, berdasarkan konstitusi Israel, seorang PM tidak harus mundur ketika masih berstatus terdakwa. Dia hanya diminta mundur jika dinyatakan bersalah dan setelah melalui proses banding. Hal itu diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun. (rds/ayp)