Istri Tentara Myanmar Tewas Terkena Bom di Rakhine

CNN Indonesia | Sabtu, 02/03/2019 03:06 WIB
Istri Tentara Myanmar Tewas Terkena Bom di Rakhine Ilustrasi garis tubuh jenazah. (Istockphoto/joebelanger)
Jakarta, CNN Indonesia -- Istri seorang mayor militer Myanmar dilaporkan tewas akibat ledakan bom pipa yang terjadi di rumah baru mereka di Kota Buthidaung, negara bagian Rakhine, pada Rabu (26/2).

Sebuah bom pipa buatan yang berisikan bola-bola baja disebut meledak ketika sang mayor dan istrinya tengah menurunkan perabotan ke rumah baru mereka. Keduanya dilaporkan baru menikah.

"Dia (istri mayor) tewas karena lukanya di tempat kejadian," bunyi pernyataan militer pada Jumat (1/3).


Militer Myanmar mengatakan kendaraan yang mengantar perabotan ke rumah sang mayor juga sempat dicegat dan digeledah oleh enam anggota kelompok bersenjata berpakaian sipil.
Militer meyakini insiden pada Rabu kemarin itu adalah ulah Tentara Arakan (AA), salah satu kelompok bersenjata yang beroperasi di Rakhine.

Meski begitu, hingga kini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas teror bom pipa tersebut. Teror bom pipa tersebut terjadi ketika bentrokan kembali mencuat di Rakhine, wilayah yang paling terisolasi di Myanmar, dalam beberapa waktu terakhir.

Tiga etnis minoritas Daignet ditemukan tewas di sebuah parit dengan kondisi mengenaskan pada Februari lalu. Dikutip AFP, dua perwira polisi juga tewas pada awal pekan ini ketika rombongan mereka menginjak ranjau darat yang dipasang oleh AA.

Belakangan jumlah kematian meningkat di Rakhine dalam beberapa waktu terakhir akibat ranjau darat dan pembunuhan.

Krisis kemanusiaan juga sempat kembali memburuk di wilayah tersebut, di mana etnis minoritas Rohingya mengalami persekusi, kekerasan, hingga pembunuhan secara sistematis yang diduga dilakukan oleh militer sekitar Agustus 2017 lalu.
Insiden itu bermula ketika kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Arakan Rohingya (ARSA) menyerang sejumlah pos keamanan di Rakhine hingga menewaskan puluhan aparat Myanmar. Sejak itu, militer meluncurkan operasi penangkapan kelompok yang dianggap teroris tersebut.

Alih-alih menangkap para pelaku, militer diduga malah menangkap, mengusir, hingga membunuh etnis Rohingya dengan sewenang-wenang. Kekerasan itu menyebabkan sedikitnya 700 ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh. (rds/ayp)