KILAS INTERNASIONAL

Kisruh Filipina vs Islandia Hingga Eks Presiden Peru Dibekuk

CNN Indonesia | Kamis, 18/07/2019 06:51 WIB
Kisruh Filipina vs Islandia Hingga Eks Presiden Peru Dibekuk Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. (REUTERS/Lean Daval)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah peristiwa terjadi di berbagai negara pada Selasa (16/7) kemarin. Mulai dari Presiden Filipina Rodrigo Duterte hendak memutuskan hubungan diplomatik dengan Islandia hingga mantan presiden Peru ditangkap karena korupsi. Semua dirangkum CNNIndonesia.com dalam kilas internasional.


1. Duterte Hendak Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Islandia

Hubungan diplomatik antara Filipina dan Islandia saat ini tengah memanas. Penyebabnya adalah Presiden Rodrigo Duterte murka karena Islandia mendukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyelidiki dugaan pembunuhan tanpa proses hukum dalam perang melawan narkoba di negaranya.


"(Duterte) tengah mempertimbangkan dengan serius untuk memutus hubungan diplomatik dengan Islandia," kata juru bicara kepresidenan Filipina, Salvador Panelo, seperti dilansir AFP, Rabu (17/7) kemarin.

Duterte balik mencibir sikap Islandia terkait resolusi itu.

"Apa sih masalah Islandia? Hanya es. Itu masalah mereka. Mereka kebanyakan es. Mereka idiot. Mereka enggak paham masalah sosial, ekonomi dan politik Filipina," kata Duterte.

Duterte sampai saat ini selalu membantah dugaan pelanggaran hak asasi manusia dalam perang melawan narkoba yang dia gelar sejak awal menjabat pada 2016. Pemerintah Filipina mencatat sekitar 6.600 orang telah terbunuh oleh polisi dalam operasi anti narkoba. Namun, kalangan aktivis mengatakan korban tewas mencapai 27 ribu orang.

Resolusi PBB untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM dalam perang narkoba Duterte dipimpin oleh Islandia dan 18 negara lain. Sedangkan 14 negara termasuk China menentang resolusi itu. Sebanyak 15 negara anggota PBB memilih abstain termasuk Jepang.


2. Jenderal Myanmar yang Diduga Bantai Rohingya Kena Sanksi AS

Pemerintahan Presiden Donald Trump melarang Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Min Aung Hlaing, dan tiga petinggi militer lainnya masuk Amerika Serikat. Sanksi itu diberikan karena mereka diduga terlibat dalam pembantaian minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine.

Kementerian Luar Negeri AS mengklaim memiliki bukti yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa Aung Hlaing dan sejumlah pejabat tinggi militer lainnya terlibat dalam operasi militer di Rakhine pada 2017 lalu. Operasi militer itu menyebabkan krisis kemanusiaan di Rakhine memburuk hingga memicu gelombang ratusan ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

"Dengan pengumuman ini, AS adalah pemerintah pertama yang secara terbuka mengambil tindakan nyata berkaitan dengan kepemimpinan paling senior militer Myanmar," kata Menlu AS Mike Pompeo, kemarin.

Militer Myanmar terus menjadi sorotan setelah diduga melakukan persekusi, pengusiran, hingga pembunuhan terhadap etnis Rohingya dan minoritas lainnya di Rakhine. Kekerasan itu kembali memburuk sekitar Agustus 2017 lalu.

Kekerasan dipicu oleh penyerangan sejumlah pos polisi oleh kelompok militan di Rakhine. Alih-alih menangkap para pelaku, militer Myanmar diduga mengusir, menyiksa, hingga membunuh etnis Rohingya.

Sejak itu, sedikitnya 700 ribu Rohingya lari ke perbatasan Bangladesh untuk mencari perlindungan. Meski Myanmar mengklaim telah menahan sejumlah tentara terkait hal ini, kekerasan terhadap Rohingya disebut masih terjadi hingga saat ini.


3. Diduga Terlibat Korupsi, Mantan Presiden Peru Ditangkap

Mantan Presiden Peru Alejandro Toledo ditangkap di Amerika Serikat karena terlibat kasus korupsi.

Dikutip dari AFP, Alejandro Toledo ditangkap pada Selasa (16/7) dan akan segera diekstradisi ke negara asalnya.

Toledo (73) didakwa telah menerima suap sebesar US$20 juta atau sekitar Rp 279 miliar dari Odebrecht guna membantu perusahaan itu memenangkan proyek pembangunan Jalan Raya Antar Laut yang menghubungkan Peru dengan Brasil.

Mantan Presiden Peru periode 2001 hingga 2006 itu juga dituduh mempengaruhi penjualan, melakukan kolusi dan pencucian uang yang merugikan Peru. Namun, Toledo membantah semua tuduhan tersebut. (ayp/ayp)