'Kabur' dari Afghanistan dan Suriah, Mati di Selandia Baru

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Minggu, 17/03/2019 14:15 WIB
'Kabur' dari Afghanistan dan Suriah, Mati di Selandia Baru Ilustrasi serangan di Selandia Baru. (Reuters/SNPA/Martin Hunter).
Jakarta, CNN Indonesia -- Daoud Nabi, pengungsi dari Afghanistan membawa kedua putranya yang masih remaja ke Selandia Baru. Keluarga ini bertolak mencari suaka lebih dari 40 tahun lalu demi mencari perlindungan yang tidak didapatkannya di tanah kelahirannya.

Ia menyebut Christchurch, Selandia Baru, sebagai rumahnya sejak 1977 silam. Nahas, alih-alih mendapat perlindungan, Daoud Nabi malah menemui ajalnya ketika orang tak dikenal melakukan serangan membabi-buta di Masjid Al Noor pada saat ia melakukan salat, Jumat (15/3) kemarin.

Otoritas setempat memang belum merilis informasi dan rincian kematiannya, namun putranya, Yama Nabi, membenarkan bahwa sang ayah telah menghembuskan nafas terakhirnya di 'rumah baru-nya', Christchurch, dalam serangan tersebut.


Nasib pengungsi yang mati di tanah pemberi suaka lainnya juga dialami Khaled Mustafa dan Hamza Mustafa. Sang ayah dan anak itu meninggal dunia dalam serangan biadab tersebut saat melaksanakan salat Jumat.

Sementara sang adik lelakinya, Zaid Mustafa, yang juga ikut melaksanakan salat Jumat, selamat. Juru Bicara Solidaritas Suriah Selandia Baru bilang Zaid (13 tahun) terluka dan dirawat di rumah sakit. Ia bahkan belum mengetahui ayah dan kakaknya telah meninggal dalam serangan tersebut.

"Khaled Mustafa adalah pengungsi dari Suriah yang datang bersama keluarganya, istri dan tiga anaknya ke Selandia Baru pada 2018 lalu. Mereka pikir, Selandia Baru adalah surga yang aman," ujar Akil, seperti dilansir CNN.com, Minggu (17/3).


Kepada media lokal setempat, Akil menyebut bahwa ia telah menemui istri almarhum. Ia menggambarkan perasaan istri Mustafa saat ini hancur lebur. Sang istri tidak bersedia untuk berbicara dengan media massa.

Serangan penembakan di dua masjid di Selandia Baru akhir pekan lalu menghilangkan 50 nyawa. Empat orang pelaku berhasil diringkus. Yang lebih keji, serangan itu disiarkan secara langsung di Facebook.

Selain pengungsi, warga negara asing yang menjadi korban dalam serangan teror tersebut, yakni Lilik Abdul Hamid dari Indonesia, empat orang dari Mesir, dan empat orang asal Yordania.


Sebelumnya, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan bahwa jasad korban akan dikembalikan ke pihak keluarga masing-masing mulai Minggu (17/3) malam. Proses pengembalian jasad akan dilakukan secara bertahap hingga Rabu (20/3) nanti.

Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya mengungkapkan Pemerintah Selandia Baru akan membantu dan menanggung pemakanan korban. "Jadi, tidak perlu khawatir," katanya dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV.

[Gambas:Video CNN]


(bir)