WN Australia Diminta Waspada Usai Penembakan Selandia Baru

CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 14:37 WIB
WN Australia Diminta Waspada Usai Penembakan Selandia Baru Duta Besar Australia di Jakarta, Gary Quinlan, saat bertemu pengurus Majelis Ulama Indonesia. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Australia meminta seluruh warganya yang berada di luar negeri, termasuk Indonesia, supaya meningkatkan kewaspadaan setelah insiden penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret lalu. Sebab, sejumlah pihak mulai menebar ancaman akan membalas aksi teror itu.

Pernyataan itu diutarakan Duta Besar Australia di Jakarta, Gary Quinlan, menyusul kekhawatiran yang muncul bahwa warga Negeri Kanguru kemungkinan menjadi target serangan di Indonesia. Sejumlah pihak menyatakan akan melakukan aksi balasan atas serangan di Christchurch, yang pelakunya adalah warga Australia bernama Brenton Tarrant.

"Kami selalu meminta warga Australia di luar negeri untuk selalu berhati-hati karena risiko terorisme selalu ada di mana saja, tidak hanya di Indonesia," ucap Quinlan usai bertemu dengan sejumlah petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Selasa (19/3).


Selain itu, sebuah laporan dari laman situs SITE Intelligence Group juga menyebutkan sejumlah sel-sel dan kelompok ekstremis di Indonesia yang diduga terhubung dengan ISIS menyebarluaskan pesan-pesan serangan. Mereka menyerukan serangan terhadap turis-turis Australia.
Imbauan itu muncul setelah pernyataan senator Australia, Fraser Anning. Dia menuduh imigran Muslim sebagai penyebab teror di Christchurch terjadi. Anning juga menyebut Islam sama dengan fasisme.

Quinlan mengatakan pihaknya mengetahui dan memperhatikan laporan itu secara serius.

Quinlan menuturkan aparat keamanan Indonesia juga telah memberikan bantuan dan dukungan kepada kedutaan untuk menjamin keamanan bagi warga Australia.

"Kami tentu sangat memperhatikan risiko-risiko yang datang dari kelompok atau orang-orang seperti itu. Untuk itu, kembali lagi kami selalu meminta warga Australia untuk berhati-hati di luar negeri," papar Quinlan.

[Gambas:Video CNN]

"Memang sangat sulit bagi aparat untuk mengetahui aktivitas-aktivitas semacam itu apalagi yang dilakukan oleh individu-individu yang tak memiliki koneksi langsung (dengan kelompok teror). Bagaimana kalian memprediksi suatu serangan lone wolf? Kami tahu itu sangat lah sulit," tutur Quinlan.

Aksi teror yang dilakukan Tarrant terjadi di dua masjid di Kota Christchurch pada 15 Maret. Yakni Masjid Al Noor dan Masjid Linwood. Dia menggunakan senapan serbu AR-15 dalam aksinya. Tarrant merekam perbuatannya dan disiarkan langsung melalui akun Facebook-nya.

Insiden terjadi ketika umat Islam setempat sedang bersiap untuk melaksanakan salat Jumat. Jumlah korban meninggal akibat peristiwa itu mencapai 50 orang.
Korban luka dalam kejadian itu juga mencapai 50 orang. Salah satu korban meninggal adalah warga Indonesia, mendiang Lilik Abdul Hamid.

Sedangkan WNI yang menjadi korban luka adalah Zulfirmansyah dan anaknya.

Setelah peristiwa itu terjadi, kepolisian Selandia Baru menangkap empat orang, terdiri dari tiga lelaki dan seorang perempuan. Namun, baru Tarrant yang dijerat dengan dakwaan pembunuhan dan disidangkan.

Tarrant menyatakan tidak mengajukan keberatan atas seluruh dakwaan. Proses sidang lelaki Australia itu bakal dilanjutkan pada 5 April mendatang, dan kemungkinan besar dakwaan bakal berlapis.
Aparat Selandia Baru menerapkan kebijakan menempatkan personel di seluruh masjid di sana saat waktu salat dan tetap siaga setelahnya. mereka menggandeng Biro Penyelidik Federal (FBI) Amerika Serikat, dan Kepolisian Federal Australia (AFP) dalam menyelidiki insiden itu. (rds/ayp)