Pemantau Sebut Pemilu Thailand Untungkan Junta Militer

CNN Indonesia | Selasa, 26/03/2019 21:21 WIB
Pemantau Sebut Pemilu Thailand Untungkan Junta Militer Ilustrasi pemilu Thailand 2019. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok pemantau pemilihan umum Thailand menyatakan proses pemungutan suara di Negeri Gajah Putih cenderung menguntungkan kelompok pro militer dan calon petahana saat ini, Prayut Chan-ocha. Menurut mereka hal itu terlihat dari berlarutnya proses penghitungan suara yang seharusnya sudah selesai pada Senin (25/3) kemarin, dan semakin menguatkan dugaan kecurangan.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (26/3), kelompok pemantau Jaringan Asia untuk Pemilu Bebas (ANFREL) menyatakan menemukan dugaan kecurangan kalau pemilu kali ini cenderung menguntungkan kelompok pro militer. Apalagi, lanjut organisasi berbasis di Bangkok itu, junta militer dan kelompok oposisi sama-sama mengklaim unggul.
"Situasinya cenderung menguntungkan junta militer. Banyak pihak tidak percaya dengan proses pemungutan suara," kata perwakilan ANFREL, Amael Vier, dalam jumpa pers.

Menurut Vier, salah satu yang membuat banyak warga Thailand bertanya-tanya adalah mengapa Komisi Pemilihan Umum setempat berlarut-larut dalam menyampaikan hasil penghitungan suara. Namun, mereka menyangkal berbuat curang dan baru akan mengumumkannya Jumat mendatang.


Partai Pheu Thai yang merupakan oposisi junta militer disebut berhasil merebut 138 kursi di Dewan Perwakilan Thailand, dari hasil hitung sementara. Sedangkan partai pro militer, Palang Pracharat, juga mengklaim unggul.

Calon perdana menteri dari Partai Pheu Thai, Sudarat Keyuraphan, menyatakan mereka saat ini sedang mendekati partai lain untuk membentuk koalisi.
"Pembentukan pemerintahan ini harus menjawab keinginan rakyat dan membawa negara ke arah demokratis," kata Sudarat.

Partai Palang Pracharat yang pro militer menyatakan juga akan membentuk koalisi. Mereka yakin akan menang dalam pemilihan umum 2019.

"Palang Pracharat akan berbicara dengan partai yang satu pemikiran dan dan ideologi yang sama untuk menggerakkan negara ke arah yang lebih baik," kata juru bicara Partai Palang Pracharat, Kobsak Pootrakool.

Salah satu partai yang kemungkinan besar bakal digandeng Partai Pheu Thai adalah Partai Kemajuan Masa Depan (FWP) yang dipimpin oleh pengusaha Thanathorn Juangroongruangkit.
Sedangkan partai yang menjadi incaran kedua belah pihak adalah Bhumjaithai. Perolehan suara partai dengan agenda legalisasi ganja dan berbagi kendaraan itu dianggap sangat penting untuk menentukan kemenangan masing-masing pihak.

Partai Pheu Thai merupakan pendukung kakak beradik sekaligus mantan perdana menteri, Thaksin Shinawatra dan Yingluck Shinawatra. Mereka masih mempunyai basis pendukung yang kuat terutama di daerah pedesaan. (ayp/ayp)