Terima Donasi Peneror, Austria Hendak Bubarkan Ekstrem Kanan

CNN Indonesia | Jumat, 29/03/2019 17:25 WIB
Terima Donasi Peneror, Austria Hendak Bubarkan Ekstrem Kanan Pelaku teror penembakan di Selandia Baru, Brenton Tarrant, saat dihadapkan ke pengadilan. (Mark Mitchell/New Zealand Herald/Pool via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Austria menyatakan pelaku teror di dua masjid di Selandia Baru, Brenton Tarrant, memang pernah menyumbang kelompok sayap kanan di negara itu, Gerakan Identitarian. Mereka saat ini mempertimbangkan berniat membubarkan organisasi itu.

"Kami mengkonfirmasi memang ada sumbangan dana dan hubungan antara pelaku teror Selandia Baru dan Gerakan Identitarian di Austria," kata Kanselir Austria, Sebastian Kurz, seperti dilansir Reuters, Jumat (29/3).

Menurut juru bicara Kejaksaan Graz, Tarrant menyumbang sekitar US$1,690 (sekitar Rp24 juta) untuk Gerakan Identitarian Austria. Ketua organisasi itu, Martin Sellner, menyatakan melalui video yang diunggah di situs Youtube memang benar menerima sumbangan dari seorang warga Australia pada 2018.


Martin mengatakan uang itu dia gunakan untuk kegiatan sosial. Namun, dia menyangkal bukan anggota kelompok teroris.
"Saya bukan anggota kelompok teroris. Saya tidak ada urusan dengan orang ini, selain menerima sumbangan dari dia," kata Sellner.

Gerakan itu mengadopsi ide dari organisasi kelompok sayap kanan dan anti-imigran Perancis, Generation Identitaire. Seorang mahasiswa asal Austria, Markus Willinger, lantas menyusun manifesto organisasi itu pada 2013.

Sejak itu aparat Austria mengawasi kegiatan organisasi itu karena dianggap terhubung dengan ideologi neo-Nazi.

Salah satu poin yang mereka cantumkan dalam manifesto adalah soal kekhawatiran ras kulit putih Nasrani di Eropa akan tergerus oleh para pendatang. Hal ini sama persis dengan isi manifesto yang ditulis Tarrant sebelum melakukan aksinya.

"Tidak boleh ada bentuk ekstremis, baik kelompok radikal Islam atau sayap kanan yang fanatik di antara masyarakat," kata Kurz.
Akan tetapi, pakar hukum di Austria menyatakan tidak mudah untuk membubarkan Gerakan Identitarian. Apalagi hanya berdasarkan sumbangan dari seorang pelaku kejahatan.

Aksi teror Tarrant dilakukan pada pada 15 Maret 2019 di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood. Dia menggunakan senapan serbu AR-15 dan shotgun dalam aksinya, dan sudah menyiapkan beberapa senjata lain. Polisi menyatakan sebenarnya Tarrant hendak melakukan aksinya di tiga masjid, tetapi berhasil dicegah aparat.

Tarrant merekam perbuatannya dan disiarkan langsung melalui akun Facebook-nya. Tarrant berhasil ditangkap setelah menyerang Masjid Al Noor, ketika hendak pergi menggunakan mobil.

Jumlah korban meninggal dalam kejadian itu mencapai 50 orang. Sedangkan korban luka tercatat juga 50 orang.

Salah satu korban meninggal adalah warga Indonesia, mendiang Lilik Abdul Hamid. Sedangkan WNI yang menjadi korban luka adalah Zulfirmansyah dan anaknya.

[Gambas:Video CNN]

Tarrant, yang merupakan penganut ideologi supremasi kulit putih, menyatakan tidak mengajukan keberatan atas seluruh dakwaan. Persidangan lelaki Australia itu bakal dilanjutkan pada 5 April mendatang, dan kemungkinan besar dia bakal menghadapi dakwaan berlapis.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, kemudian melarang penjualan senapan serbu dan semi-otomatis sebagai respons terhadap penembakan itu. Dia memaparkan siapa pun yang menyimpan senjata ke depannya akan menghadapi denda hingga NZ$4.000 dan terancam tiga tahun penjara. (ayp/ayp)