Paus dan Raja Maroko Ingatkan Yerusalem Warisan Bersama Umat

CNN Indonesia | Minggu, 31/03/2019 02:10 WIB
Paus dan Raja Maroko Ingatkan Yerusalem Warisan Bersama Umat Paus Fransiskus mengingatkan kembali tentang posisi Yerusalem sebagai warisan untuk tiga umat agama di dunia. (REUTERS/Aristide Economopoulos | NJ Advance Media/POOL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Paus Fransiskus bersama Raja Maroko, Mohammed VI mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa Yerusalem merupakan 'warisan bersama untuk umat manusia, khususnya umat tiga agama monoteistik'. Pernyataan ini dikeluarkan saat lawatan Paus Fransiskus ke Maroko, Sabtu (30/3).

"Karakter multi-agama, identitas keagamaan dan budaya yang khusus di Yerusalem, harus harus dilindungi dan dipromosikan," kata mereka dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Vatikan, dilansir AFP, Sabtu (30/3).

Dalam lawatannya selama dua hari tersebut, Paus Fransiskus menyerukan kebebasan beragama dan upaya untuk mengatasi 'fanatisme' dalam beragama. Paus melakukan kunjungan ke Maroko untuk bertemu dengan para pemimpin Muslim dan migran di negeri 90 persen pemeluk Muslim tersebut.


Berbicara di hadapan ribuan masyarakat Maroko, Fransiskus menegaskan pentingnya untuk melawan fanatisme dalam agama, dan melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan Tuhan.


"Hiduplah sebagai saudara," katanya di hadapan kerumunan sekitar 25 ribu orang saat upacara penyambutan.

Krisis keagamaan di Yerusalem khususnya di Masjid Al-Aqsa menjadi perhatian dunia internasional beberapa pekan terakhir. Ini berawal ketika yayasan pengelola kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, Waqf, menentang peraturan Israel yang melarang umat Muslim beribadah di Gerbang Emas (Golden Gate), salah satu bangunan di masjid tersebut.

Penentangan terjadi menyusul insiden bentrokan antara jamaah masjid dan polisi Israel terkait penggunaan Gerbang Emas yang ditutup negara zionis tersebut sejak 2003 lalu. Dalam sebuah video yang dirilis Selasa (5/3), Pemimpin Dewan Waqf, Sheikh Abdel Azim Salhab, penutupan gedung hanya akan menyebabkan 'reaksi keras terhadap polisi' di kompleks suci yang dikenal dengan nama Haram Al-Sharif itu.


Merespons kondisi tersebut, Parlemen Yordania telah mendesak pemerintah mengusir duta besar Israel di Amman. Hal itu sebagai respons atas kebijakan negara Zionis itu terhadap pembatasan beribadah di kompleks Masjid Al Aqsa dalam beberapa waktu terakhir.

"Parlemen merekomendasikan pemerintah untuk memanggil duta besar Yordania dari Israel dan mengusir dubes Israel dari Amman sebagai tanggapan atas agresi Israel yang sedang berlangsung di tempat-tempat suci di Yerusalem," bunyi laporan kantor berita resmi Yordania, Petra, Senin (18/3).

Parlemen Yordania juga mendesak pemerintah untuk mengangkat isu agresi Israel tersebut ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Parlemen Yordania juga meminta pemerintah mendorong DK PBB agar menghentikan pelanggaran Israel dan melindungi warga Palestina.




(ain/ain)