Australia Akan Terima Anak Militan ISIS yang Yatim Piatu

CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 20:45 WIB
Australia Akan Terima Anak Militan ISIS yang Yatim Piatu PM Scott Morrison mengatakan bahwa Australia terbuka untuk menerima anak militan ISIS dari negaranya yang kini sudah tak memiliki orang tua di Suriah. (AAP/Mick Tsikas/via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Australia terbuka untuk menerima anak militan ISIS dari negaranya yang kini sudah tak memiliki orang tua di Suriah.

"Ketika mereka dalam posisi siap pulang ke Australia, kami akan bekerja sama dalam proses itu," ujar Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, sebagaimana dikutip AFP, Jumat (5/4).

Morrison kemudian mengatakan bahwa jajaran pemerintahannya sedang bekerja sama dengan Palang Merah untuk mengurus kepulangan para anak militan ISIS yang ada di Kamp Al-Hol di utara Suriah.


"Ketika ada warga Australia yang terperangkap dalam situasi ini, terutama anak-anak yang tak bersalah, kami akan melakukan apa yang saya pikir warga Australia ingin kami melakukannya," tutur Morrison.
Ia menegaskan bahwa Australia tidak akan membiarkan kehidupan warganya terus dalam bahaya di tengah zona konflik.

Pernyataan ini dilontarkan setelah Hoda Sharrouf, putri militan ISIS, Khaled Sharrouf, menyampaikan keluhannya kepada sejumlah media.

Ia mengaku khawatir akan kesehatan rekannya, Zaynab, yang kini sedang mengandung tujuh bulan dan "sangat sakit."

"Bagaimana dengan anaknya? Bagaimana dengan orang yang sebenarnya tidak ingin ke sini? Bagaimana dengan orang yang terperangkap di sini dan tak pernah mau berada di sini. Mereka tidak pantas diperlakukan seperti ini," katanya.
Menutup pernyataannya, Hoda berkata, "Kami warga Australia juga. Australia harus melakukan sesuatu. Mereka harus bergerak."

Berdasarkan laporan Sydney Morning Herald, kini ada lima anak militan ISIS yang sedang membutuhkan bantuan, yaitu Hoda, Zaynab, Hmazeh, juga Ayesha dan Fatimah.

Ayah Hoda, Khaled, adalah warga Australia pertama yang dicabut kewarganegaraannya karena bergabung dengan ISIS.
Khaled meninggalkan Australia pada 2013 bersama istrinya, Tara Nattleton, bersama dua putri dan tiga putranya.

Bapak tersebut menarik perhatian publik pada 2014 lalu, ketika mengunggah foto putranya yang sedang memegang kepala tanpa badan.

Ia diyakini tewas pada 2017 dalam serangan AS di Suriah bersama putranya, sementara Nettleton diduga meninggal dua tahun sebelumnya. (has/has)