Didemo Besar-besaran, Presiden Sudan Mundur

CNN Indonesia | Kamis, 11/04/2019 18:57 WIB
Didemo Besar-besaran, Presiden Sudan Mundur Presiden Sudan, Omar Al-Bashir. (Reuters/Mohamed Nureldin Abdallah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Sudan, Omar Al-Bashir (75), mundur dari jabatannya setelah gelombang unjuk rasa rakyat yang meminta dia lengser karena dugaan kejahatan perang dan pembantaian selama tiga dasawarsa berkuasa. Kini dia dilaporkan menjadi tahanan rumah, dan seluruh ajudannya ditarik dan diganti.

Seperti dilansir CNN, Kamis (11/4), gelombang unjuk rasa rakyat Sudan menuntut Bashir mundur sudah dilakukan sejak pekan lalu. Bahkan, mereka sempat bentrok dengan aparat.

Setelah Bashir turun, angkatan bersenjata mengerahkan pasukan untuk berjaga-jaga di Ibu Kota Khartoum. Mereka tidak menghentikan ribuan massa yang turn ke jalan merayakan mundurnya Bashir.


Kelompok pegiat Sudan, Asosiasi Profesional Sudan (SPA) meminta militer segera menyerahkan kekuasaan kepada rakyat, untuk membentuk pemerintahan peralihan.
"Kami tidak menerima pemerintah saat ini melanjutkan pemerintah, atau membiarkan militer mengisi kekuasaan," kata juru bicara SPA, Elmuntasir Ahmed.

Badan Intelijen Sudan menyatakan sudah memerintahkan melepas seluruh tahanan dan narapidana politik.

Bashir meraih kekuasaan di Sudan saat berhasil mengkudeta Perdana Menteri Sadiq al-Mahdi. Dia lantas membubarkan pemerintahan, partai politik, dan serikat dagang lalu mendeklarasikan diri sebagai Ketua Dewan Komando Revolusioner.

Setahun setelahnya sejumlah aparat polisi dan militer mencoba mengkudetanya, tetapi gagal. Dia lantas mengeksekusi 30 perwira diduga terlibat kudeta.

Pada 1993, Bashir membubarkan Dewan Komando Revolusioner dan mengembalikan pemerintahan sipil, dan mengangkat dirinya menjadi presiden.
Pada pemilihan umum 1996, Bashir menang dengan meraih 75 persen suara. Empat tahun kemudian, dia kembali menang dengan meraih 85 persen suara.

Tiga tahun kemudian, pecah pemberontakan di Darfur, yang kini menjadi Ibu Kota Sudan Selatan. Dia dianggap membiarkan Milisi Janjawid yang pro pemerintah membunuh dan memperkosa warga.

Pada 2008, Mahkamah Kriminal Internasional mendakwa Bashir dengan tuduhan pembantaian dan kejahatan perang di Darfur. Namun, dia tidak pernah bisa diseret ke pengadilan.

Pada pemilu 2015, Bashir menang dengan meraih 94 persen suara. Namun, kelompok oposisi memboikot hasil itu.

Sejak akhir 2018, unjuk rasa mendesak Bashir turun merebak di sejumlah kota di Sudan. Pada Februari lalu, Bashir menetapkan status darurat nasional, dan memerintahkan angkatan bersenjata membubarkan demonstrasi.

[Gambas:Video CNN]

Sudan yang merdeka dari penjajahan Inggris pada 1956 selalu dirundung perang saudara selama puluhan tahun. Perang itu membuat Bashir meneken perjanjian damai dengan pemberontak di Sudan Selatan.

Mereka berebut wilayah kaya minyak di Kordofan Selatan. Pada 2011, warga Sudan Selatan memilih ingin merdeka dan diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa, menjadikan mereka negara termuda di dunia. (ayp/ayp)