Trauma, Umat Muslim di Christchurch Ragu Salat di Masjid

CNN Indonesia | Jumat, 12/04/2019 15:25 WIB
Trauma, Umat Muslim di Christchurch Ragu Salat di Masjid Ilustrasi umat Muslim di Christchurch, Selandia Baru menunaikan salat Jumat sepekan selepas peristiwa teror. (REUTERS/Edgar Su)
Jakarta, CNN Indonesia -- Trauma akibat aksi teror di dua masjid Christchurch, Selandia Baru masih meliputi umat Muslim setempat. Meski sudah empat pekan berlalu, jemaah di dua masjid masih ragu untuk kembali beribadah di sana.

"Mereka masih sangat ketakutan. Biasanya sekitar 100 orang (salat Jumat) di sini, sekarang hanya 30 orang," kata Imam Masjid Lindwood, Ibrahim Abdelhalim, seperti dilansir AFP, Jumat (12/2).

Abdelhalim mengatakan banyak jemaah yang ingin kembali beribadah ke masjid di sana. Namun, mereka teringat kembali tragedi penembakan itu.


Kepolisian Selandia Baru telah menerbitkan peringatan yakni tingkat ancaman di Christchurch masih tinggi. Hal ini berimbas pada menurunnya jumlah peserta dalam Hari Anzac, yakni hari peringatan nasional terhadap warga Selandia Baru dan Australia yang gugur dalam perang dan operasi penjaga perdamaian.
Di Auckland, hanya sekitar 26 orang yang berpartisipasi dalam peringatan itu. Padahal, tahun lalu tercatat 90 orang mengikuti kegiatan ini.

"Tidak ada informasi tentang ancaman atas acara Anzac. Bagaimana pun juga penting memastikan keamanan dan rasa aman publik dalam acara-acara seperti ini," ucap Komandan Polisi Selandia Baru, Karyn Malthus.

Pada 15 Maret lalu, seorang warga Australia yang bermukim di Selandia Baru, Brenton Harrison Tarrant, menembaki seluruh orang yang hendak salat Jumat di dua masjid di Christchurch, yakni Masjid Al-Noor dan Lindwood. Aksinya disiarkan secara langsung di akun Facebooknya.

Akibat perbuatannya, 50 orang meninggal dan 50 lainnya terluka. Dia didakwa 89 tuduhan yakni 50 kasus pembunuhan dan 39 percobaan pembunuhan.
Tak lama setelah itu, komunitas Muslim di sana juga kembali terguncang ketika seorang lelaki bernama Daniel Nicholas Tuapawa (33), memaki-maki di depan Masjid Al-Noor. Dia melakukan hal itu sambil mengenakan kaus bergambar wajah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Tuapawa ditangkap dan hari ini dinyatakan bersalah di pengadilan dengan tuduhan melakukan kekerasan. Dia mengaku tak menyadari perbuatannya sampai melihat rekaman video dari polisi, yang menunjukkan dirinya berteriak "seluruh umat Muslim adalah teroris".

Tuapawa mengaku mengidap penyakit kejiwaan dan tak memiliki masalah dengan umat Muslim.

"Ini hanya karena pemberitaan dan yang ada di kepala saya," ucap Tuapawa.

[Gambas:Video CNN]

Tak lama setelah penembakan, pemerintah Selandia Baru mengesahkan revisi Undang-Undang Senjata Api. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengatakan pemerintah bakal melarang senapan kepemilikan dan penggunaan senjata api otomatis dan semi-otomatis. Pemilik senjata itu harus menyerahkannya kepada polisi dan mereka akan mendapat ganti rudi sesuai umur dan kondisi senjata. (chr/ayp)