Venezuela Rusuh, Pemerintah Sebut Ada Percobaan Kudeta

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 01/05/2019 07:48 WIB
Venezuela Rusuh, Pemerintah Sebut Ada Percobaan Kudeta Suasana demonstrasi di Venezuela. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok demonstran bentrok dengan polisi di jalan-jalan ibukota Venezuela, Selasa (30/4) waktu setempat, setelah pemimpin oposisi Juan Guaido menyerukan militer untuk bangkit melawan Presiden Nicolas Maduro, yang pemerintahnya mengatakan telah terjadi percobaan kudeta.

Pemerintah Maduro mengatakan telah "menonaktifkan" percobaan kudeta oleh sekelompok kecil tentara "berbahaya", tetapi Guaido mendukung Amerika Serikat, di mana Presiden Donald Trump mengatakan dalam cuitannya di Twitter bahwa Washington berdiri di belakang rakyat Venezuela dan "kebebasan" mereka.

Ketika kerusuhan berkobar, ada sedikit tanda awal cengkeraman besi Maduro pada militer - yang telah membuatnya berkuasa dalam perselisihan selama berbulan-bulan dengan Guaido - tak lagi berpengaruh.


Di Twitter, ia mengklaim para kepala militer telah menyatakan "kesetiaan total" mereka.

Guaido mengumpulkan pendukungnya dengan pesan video pagi hari yang menunjukkan - untuk pertama kalinya - bersama pasukan bersenjata yang disebutnya berbulan-bulan telah bergabung dalam rencananya untuk menggulingkan Maduro.

Pemimpin Majelis Nasional berusia 35 tahun itu merekam video di luar pangkalan udara La Carlota, di mana ia meminta angkatan bersenjata di dalam untuk bergabung dengannya.

Video itu juga menampilkan tokoh oposisi kunci Leopoldo Lopez, yang mengatakan tentara telah membebaskannya dari tahanan rumah selama bertahun-tahun.

Guaido mengklaim langkah itu adalah "awal dari akhir" rezim Maduro, dan "tidak ada jalan untuk kembali".

'Saraf baja'

Ribuan pendukung oposisi terlihat jalan raya di dekat pangkalan udara sambil mengibarkan bendera Venezuela, tetapi mereka disambut dengan tembakan dan gas air mata oleh tentara di sekeliling komplek.

Lopez kemudian memasuki kedutaan Chile bersama istri dan salah satu anaknya untuk meminta suaka, Menteri Luar Negeri Chile Roberto Ampuero mengumumkan di Santiago.

Tentara yang mendukung Guaido mengenakan ban lengan biru untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepada pemimpin oposisi - yang diakui sebagai presiden sementara oleh lebih dari 50 negara - namun terlihat hanya ada beberapa dari mereka.

Brasil mengatakan sebanyak 25 tentara Venezuela mencari suaka di kedutaannya di Caracas.

Maduro telah menyerukan pasukannya untuk menunjukkan "saraf baja" dan pasukan dengan pakaian anti huru hara, didukung oleh kendaraan lapis baja dan tank air, berbaris melawan para demonstran.

Beberapa kendaraan menabrak kerumunan, melukai beberapa pengunjuk rasa. Para perusuh kemudian memblokir jalan raya dengan bus dan membakarnya.

Segumpal asap hitam mengepul dari daerah dekat hanggar helikopter di pangkalan itu, tempat para demonstran yang berhasil masuk sebentar didorong mundur.

"Hari ini adalah hari Maduro mengundurkan diri. Hari ini adalah hari semua pengedar narkoba negara ini mengundurkan diri. Hari ini kami memiliki Venezuela. Hari ini kami memiliki sebuah negara," kata seorang pengunjuk rasa.

Ketika Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengimbau semua pihak untuk menghindari kekerasan, kepala militer dan menteri pertahanan Venezuela, Jenderal Vladimir Padrino mengeluarkan peringatan keras tentang kemungkinan "pertumpahan darah" - menambahkan bahwa ia akan meminta pertanggungjawaban pihak oposisi.

Melalui cuitan di Twitter, Padrino mengatakan situasi di pangkalan militer negara itu "normal," di tengah laporan demonstrasi di Maracaibo dan kota-kota lain.

Dia kemudian mengatakan seorang kolonel tentara telah menerima luka tembak di leher saat bentrokan di Caracas.

Petugas kesehatan mengatakan 69 orang terluka, termasuk dua dari luka tembak.

AS, sementara itu, meminta militer untuk melindungi rakyat dan mendukung "lembaga-lembaga yang sah" termasuk Majelis Nasional yang dikontrol oposisi.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan kepada CNN bahwa ia yakin Maduro siap untuk melarikan diri dari negara itu kepada sekutu Kuba sebelum ia dibujuk oleh Rusia.

Moskow, pendukung utama Maduro dan kreditor bersama China, menuduh Guaido "memicu konflik" di negara kaya minyak itu.

Sekutu kiri Amerika Latin Maduro, Kuba dan Bolivia, juga mengecam Guaido.

Trump mengancam "embargo penuh dan lengkap" dan sanksi lebih keras terhadap Kuba jika tidak mengakhiri dukungan militer untuk Venezuela.

Demonstrasi pro dan anti-Maduro diadakan di luar kedutaan besar Venezuela di beberapa ibu kota Amerika Latin dan Eropa.

NetBlocks melaporkan bahwa "beberapa layanan internet" dibatasi di Venezuela setelah permintaan Guaido.

'Fase definitif'

Pemerintah Venezuela menangguhkan siaran dari BBC Mundo, CNN International dan stasiun radio Caracas, media lokal dan Serikat Pekerja Pers Nasional.

Grup Lima dari sebagian besar negara Amerika Latin mengumumkan pertemuan darurat di Lima pada hari Jumat (3/5) untuk membahas krisis.

Dalam videonya, Guaido mengatakan "fase definitif" telah dimulai dalam upayanya untuk menggulingkan Maduro - yang telah memperburuk ekonomi sejak mengambil alih kekuasaan dari mentornya, Hugo Chavez pada 2013.

"Tentara pemberani, patriot pemberani, orang pemberani yang mendukung konstitusi telah menjawab panggilan kami," kata Guaido.

Seruan Selasa datang menjelang rencana oposisi untuk mengadakan protes besar-besaran May Day di Caracas, di mana Maduro juga akan memimpin rapat umum saingan.

Ketegangan di Venezuela telah tergeser ke tingkat kritis tahun ini, setelah Guaido mengumumkan pada 23 Januari bahwa ia adalah penjabat presiden di bawah konstitusi. Dia mengatakan Maduro telah terpilih kembali secara curang tahun lalu.

Meskipun Trump telah berulang kali mengatakan "semua opsi" ada di atas meja mengenai Venezuela - termasuk, secara implisit, aksi militer - belum ada mobilisasi militer AS yang nyata.

Sebaliknya, Washington telah meningkatkan tekanan ekonomi, melalui sanksi yang ditujukan pada rezim Maduro dan dengan memotong penjualan minyak Venezuela - penghasil pendapatan utamanya.

(ard)