Bawa Petinggi Militer, Nicolas Maduro Muncul di Televisi

Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 03/05/2019 03:15 WIB
Bawa Petinggi Militer, Nicolas Maduro Muncul di Televisi Presiden Venezuela Nicolas Maduro muncul di sebuah acara televisi bersama petinggi militer, meyakinkan publik bahwa angkatan bersenjata tidak mendukung kudeta. (REUTERS/Eduardo Munoz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan sejumlah petinggi militer muncul bersama dalam sebuah acara televisi, Kamis (2/5) waktu setempat. Mereka membantah klaim Amerika Serikat dan oposisi bahwa militer mendukung kudeta.

Diapit oleh Menteri Pertahanan Vladimir Padrino dan Kepala Operasi Militer Remigio Ceballos, Maduro mengatakan bahwa angkatan bersenjata "bersatu, kohesif, dan tunduk pada konstitusi."

"Jangan datang menggadaikan kami dengan tawaran palsu, seperti kami tidak memiliki martabat," kata Padrino yang ada di samping Maduro dalam video tersebut.


"Mereka yang telah jatuh dan menjual jiwa mereka bukan lagi prajurit, mereka tidak bisa bersama kita." lanjut Padrino.


Penampilan Maduro ini jadi yang pertama usai Juan Guaido memimpin demonstrasi dan menyebut bahwa militer telah mendukung kudeta. Namun Guaido menyebut gerakan itu bukan kudeta, melainkan "fase akhir pembebasan Venezuela."

Sementara itu, pihak Maduro memandang aksi Guaido ini sebagai upaya kudeta terhadap pemerintah sehingga memicu bentrokan antara massa pro-Guaido dengan aparat keamanan di beberapa wilayah.

Guaido yang merupakan kepala Majelis Nasional yang dipimpin oleh oposisi diakui sebagai presiden oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah pemerintahan lainnya. Sementara itu, Maduro didukung oleh Rusia, China, dan Kuba.

Penampilan Maduro bersama sejumlah petinggi militer tersebut tampak ingin membantah isu pengkhianatan yang terjadi di lingkaran dalam sang presiden.


Pejabat AS sebelumnya mengatakan bahwa komando tinggi militer telah berdiskusi dengan Mahkamah Agung dan perwakilan Guaido atas kepergian Maduro.

Elliot Abrams, utusan khusus AS untuk Venezuela mengatakan Maduro tidak dapat mempercayai para pemimpin militernya sendiri.

"Bahkan ketika mereka mengatakan, 'saya setia Pak Presiden'. Maduro tak bisa mengandalkan itu," kata Abrams kepada media VPI, Rabu (1/5).

"Hampir semua orang terlibat dengan itu [kudeta], dan karenanya Maduro harus tahu bahwa komando tertinggi tidak benar-benar setia dan mereka menginginkan perubahan," lanjutnya.

[Gambas:Video CNN]

Komentar Abrams tersebut bukan yang pertama dari pejabat AS tentang keraguan kesetiaan lingkaran dalam Maduro terhadap presiden Venezuela itu.

Penasihat Keamanan Nasional AS John Balton sebelumnya bahkan mengatakan bahwa Padrino, bersama dengan Jaksa Agung dan kepala Kepresidenan, telah mengatakan kepada Maduro bahwa ia harus mundur.

Ketegangan di Venezuela telah terjadi lebih dari tiga bulan setelah Guaido meminta konstitusi negara tersebut untuk mengambil alih kepresidenan sementara. Hal itu dilakukan karena Maduro dituding melakukan kecurangan pada pemilu 2018.

Di sisi lain, Maduro menyebut Guaido sebagai antek AS yang menginginkan kudeta. (end)