China Berang Usai Kapal Perang AS Melintas di LCS

CNN Indonesia | Selasa, 07/05/2019 07:45 WIB
China Berang Usai Kapal Perang AS Melintas di LCS Pangkalan militer China di Pulau Spratly, Laut China Selatan. (REUTERS/U.S. Navy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China murka setelah dua kapal perang Amerika Serikat berlayar di dekat gugus karang Gaven dan Chigua di Kepulauan Spratly, Laut China Selatan. Mereka menyatakan aksi itu tidak mengindahkan perdamaian dan keamanan kawasan.

"Kegiatan kapal perang AS melanggar kedaulatan China dan tidak menghiraukan perdamaian, keamanan dan aturan yang berlaku di wilayah perairan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Geng Shuang, seperti dilansir AFP, Selasa (7/5).
Dua kapal perusak pandu peluru kendali AS, USS Preble dan USS Chung Hoon, berlayar dalam jarak 12 mil laut dari Gugus Karang Gaven dan Chigua di Kepulauan Spratly. China menyebut daerah itu dengan nama Nansha.

AS berdalih kapal angkatan laut mereka sedang berlayar dalam misi kebebasan navigasi. Namun, China tidak sepakat.


"China menyatakan sangat kecewa dan menentang sikap itu karena kapal AS masuk tanpa izin," ujar Shuang.

Shuang mengklaim China menggandeng Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk mempertahankan kestabilan kawasan Laut China Selatan. Dia justru meminta AS berhenti melakukan sikap provokasi dan menghormati kedaulatan serta kepentingan keamanan China, serta negara-negara di sekitar Laut China Selatan.

China menyatakan mereka mengerahkan angkatan laut dan udara untuk menghalau pergerakan kapal perang AS. Mereka lantas meminta kedua kapal itu pergi dari wilayah sengketa itu.
"Pasukan kami akan terus siaga dan akan mengambil langkah apapun yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan negara dan menjamin perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan," kata Juru Bicara Komando Armada Selatan AL China, Li Huamin, melalui media sosial Weibo.

Li mengklaim China mempunyai kedaulatan penuh di pulau-pulau di Laut China Selatan serta wilayah perairan di sekitarnya.

Sejak era Barack Obama, AS rutin melakukan operasi semacam ini di Laut China Selatan untuk menentang klaim sepihak China atas 90 persen wilayah di Laut China Selatan.

Wilayah-wilayah ini yang terletak di jalur perdagangan tersibuk ini juga diklaim oleh Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.
China juga membangun pulau-pulau buatan dengan cara reklamasi di Laut China Selatan, dan dibuat menjadi pangkalan militer. (ayp/ayp)