Umat Katolik Sri Lanka Mulai Ibadah Minggu di Gereja

CNN Indonesia | Minggu, 12/05/2019 15:27 WIB
Umat Katolik Sri Lanka Mulai Ibadah Minggu di Gereja Ilustrasi aparat keamanan berjaga di gereja Sri Lanka. (AP Photo/Eranga Jayawardena)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan umat Katolik mulai menghadiri ibadah Minggu di Ibu Kota Kolombo, Sri Lanka, pada Minggu (12/5). Mereka beribadah di bawah penjagaan ketat aparat keamanan, pasca teror bom bunuh diri  pada 21 April lalu.

Pasukan bersenjata menjaga gereja St, Theresa di kawasan Thimbirigasyaya, Kolombo. Sementara anggota jemaat sempat ikut membantu menyisir gereja. Aparat juga meminta jemaat tidak membawa kendaraan sebagai bentuk antisipasi teroris menggunakan kendaraan sebagai kedok untuk melakukan serangan lanjutan.
Seperti dilansir AFP, kebaktian Minggu sempat ditiadakan di semua gereja setelah serangan itu. Namun, Uskup Agung Kolombo, Kardinal Malcolm Ranjith, pada Kamis (9/5) mengatakan ibadah akan dilakukan pekan ini di keuskupannya dan mengadakan misa khusus bagi korban serangan 21 April di Katedral St. Lucia.

Sebagian besar gereja di luar Kolombo telah memulai kembali ibadah Minggu sedari pekan lalu. Namun tetap dalam pengawasan ketat polisi setempat.


Pejabat gereja juga mengatakan sekolah swasta Katolik yang ditutup setelah liburan paskah akan mulai kembali kegiatan belajar mengajar pada Selasa (14/5). Tingkat pengamanan ketat juga tetap dilakukan seperti batasan parkir dekat sekolah.
Pemerintah Sri Lanka menyatakan seluruh tersangka dan pelaku teror bom pada Hari Paskah 21 April lalu, yang menargetkan tiga gereja beserta hotel berhasil ditangkap atau meninggal. Namun, menurut sumber masih ada sekitar puluhan orang yang diduga terlibat jaringan itu masih dalam pelarian.

Pelaksana Tugas Kepala Kepolisian Sri Lanka, Chandana Wickramaratne, menyatakan aparat juga berhasil menyita sejumlah bahan-bahan pembuat bom dari para tersangka. Diduga para terduga akan menggunakannya untuk menggelar serangan teror lanjutan.

Akibat perbuatan para teroris, sebanyak 258 orang meninggal dan sekitar 500 lainnya luka-luka.

Pemerintah Sri Lanka sudah menyatakan kelompok Jemaah Tauhid Nasional (NTJ) dan Jemaah Agama Ibrahim (JMI) sebagai organisasi terlarang. Pemimpinnya, Zahra Hashim, diduga adalah otak serangan teror yang tewas dalam serangan di Hotel Shangri-La.

[Gambas:Video CNN]

Akan tetapi, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), mengklaim bertanggung jawab atas perbuatan keji itu.

Aparat menduga serangan itu sudah direncanakan selama bertahun-tahun. Terutama setelah perang sipil dengan kelompok pemberontak Macan Tamil berakhir pada 2009. Saat itu umat Muslim setempat juga menjadi korban sehingga harus mengungsi. Banyak dari mereka direkrut pemerintah untuk memerangi pemberontak karena fasih berbahasa Tamil dan Sinhala. (chr/ayp)