Saudi: Bola Perang Ada Di Kaki Iran

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 19/05/2019 21:59 WIB
Saudi: Bola Perang Ada Di Kaki Iran Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arab Saudi menegaskan pasukannya siap menghadapi Iran meski tak berencana untuk berperang dengan musuh bebuyutannya itu di kawasan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir menegaskan Saudi berupaya mencegah perang terjadi demi menjaga stabilitas kawasan. Namun, tegasnya, Arab Saudi pun tak akan tinggal diam melihat 'agresi dan serangan Iran'.

Jubeir menuturkan keputusan perang sepenuhnya berada di tangan Teheran--pusat pemerintahan Iran. Saudi, paparnya, akan merespons setiap provokasi yang dilakukan Iran 'dengan seluruh kekuatan'.


"Kerajaan Arab Saudi tidak menginginkan perang di kawasan dan juga tidak sedang merencanakan hal itu. Saudi akan melakukan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah perang. Kerajaan akan merespons dengan seluruh kekuatan dan determinasi untuk mempertahankan kepentingan," kata Jubeir dalam jumpa pers di Riyadh seperti dilansir Reuters, Minggu (19/5).


"Kami menginginkan perdamaian dan stabilitas di kawasan, tetapi kami tidak akan duduk diam dengan serangan Iran yang terus berlanjut. Bola ada di kaki Iran dan ini semua bergantung pada Iran," paparnya menambahkan.

Serupa dengan Jubeir, Menlu Iran Javad Zarif juga membantah kemungkinan perang terpecah antara Teheran dan Riyadh.

Zarif menegaskan Iran juga tak berminat untuk mencari konflik. Selain itu, dia mengklaim tidak ada negara yang "memiliki ilusi bisa berkonfrontasi dengan Iran."

"Kami tidak mencari peluang perang tapi kami juga tidak takut berperang," kata Zarif.


Situasi di Timur Tengah terus memanas terutama antara Iran-Saudi dalam sepekan terakhir. Ketegangan dua negara meningkat setelah dua kilang minyak perusahaan Saudi, Aramco, diserang pesawat nirawak atau drone bersenjata pada Rabu pekan lalu.

Riyadh menuduh Teheran memerintahkan serangan drone yang diklaim pemberontak Houthi di Yaman itu. Iran memang telah lama dituduh mendukung Houthi.

Dua hari sebelumnya, empat kapal termasuk dua kapal tanker Saudi disabotase di perairan lepas Uni Emirat Arab, tepatnya Selat Hormuz.

Meski Saudi dan Uni Emirat Arab tak menuding siapa pun terkait sabotase kapal tanker itu, Amerika Serikat (AS) meyakini insiden itu dilakukan Iran.

Iran membantah bertanggung jawab atas dua provokasi tersebut yang juga terjadi ketika ketegangannya dengan Amerika Serikat meningkat.

Relasi Iran dan AS kembali memanas setelah sekitar dua pekan lalu, Presiden Hassan Rouhani mengancam akan melanjutkan program nuklirnya.

Merespons ketegangan di kawasan, Raja Salman mengundang pemimpin negara Teluk untuk menghadiri pertemuan tinggi darurat di Makkah pada 30 Mei mendatang.

Sementara itu, Riyadh menuturkan Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) juga menelepon Menlu AS Mike Pompeo hari ini untuk mendiskusikan penguatan keamanan dan stabilitas menyusul situasi terkini di kawasan. (rds/age)