Korut Sebut Penasihat Donald Trump 'Maniak Perang'

CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 00:10 WIB
Korut Sebut Penasihat Donald Trump 'Maniak Perang' Penasihat keamanan nasional Presiden Amerika Serikat, John Bolton. (REUTERS/Joshua Roberts/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Utara menganggap John Bolton yang merupakan penasihat keamanan nasional Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai pribadi "maniak perang" dan "penghasut", menyusul kebijakannya selama ini terhadap Pyongyang yang dianggap "provokatif".

"Dia (Bolton) sekarang dikenal sebagai penghasut perang karena obsesinya dengan perang-perang di Timur Tengah dan Amerika Selatan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut seperti dikutip kantor berita KCNA, Senin (27/5).
"Bukan kebetulan bahwa saat ini terdengar di AS bahwa Bolton adalah seorang penghasut perang yang membisikkan kepada presiden ketika dia sendiri menghindari wajib militer dengan mengatakan bahwa dia tidak punya keinginan mati di lumbung padi Asia Tenggara," tambahnya.

Pyongyang menyebut Bolton "cacat struktural" dan "penasihat perusak keamanan yang menghancurkan perdamaian dan keamanan."


Pernyataan itu diutarakan Kemlu Korut menanggapi komentar Bolton pada akhir pekan lalu yang menilai uji coba rudal terbaru Korut dalam beberapa pekan terakhir "tidak dipungkiri lagi melanggar sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)."

Meski begitu, Bolton mengatakan AS masih siap berdialog dengan negara terisolasi itu.

Menanggapi hal itu, jubir Kemlu Korut tersebut menuturkan negaranya tidak pernah mengakui larangan PBB soal teknologi balistik.
Menurutnya, larangan itu menggerogoti hak "untuk diakui dan berkembang sebagai negara berdaulat."

"Klaimnya (Bolton) memang lebih dari sekedar bodoh. Larangan peluncuran menggunakan teknologi balistik adalah sama dengan tuntutan bahwa Korut harus menyerahkan pertahanan dirinya," kata jubir tersebut seperti dikutip AFP.

Pernyataan pedas Korut itu muncul hanya beberapa menit setelah Trump mengatakan bahwa relasi Korut dan AS saat ini didasari oleh "rasa hormat yang besar".

Berbicara di sela-sela kunjungan kenegaraannya ke Jepang, Trump memprediksi akan ada banyak "hal baik" yang terjadi antara kedua negara di masa depan, terutama soal denuklirisasi.

[Gambas:Video CNN]

Padahal, negosiasi denuklirisasi antara Korut-AS masih mengalami kebuntuan, terutama setelah pertemuan kedua Trump dan Kim Jong-un di Hanoi, Vietnam, pada Maret lalu, berakhir tanpa kesepakatan.

Terlebih, Korut juga kembali melakukan uji coba misil dalam beberapa pekan terakhir setelah selama satu tahun lebih absen. (rds/ayp)