Raja Saudi Ajak Negara Teluk Lawan Tindakan Kriminal Iran

CNN Indonesia | Jumat, 31/05/2019 11:30 WIB
Raja Saudi Ajak Negara Teluk Lawan Tindakan Kriminal Iran Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, menyerukan agar negara-negara Teluk bersatu untuk melawan tindakan 'kriminal' Iran di kawasan. (Reuters/Tomohiro Ohsumi/Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, menyerukan agar negara-negara Teluk bersatu untuk melawan tindakan "kriminal" Iran di kawasan.

"Intervensi rezim Iran terhadap urusan dalam negeri negara lain di kawasan, pengembangan program nuklir dan rudal, semuanya mengancam kebebasan pelayaran internasional adalah ancaman terhadap pasokan minyak global," ujar Salman.

Melanjutkan pernyataannya, Salman berkata, "Tindakan kriminal ini membuat kita emua harus bekerja serius mempertahankan keamanan negara-negara Teluk."


Raja Salman melontarkan seruan ini tak lama setelah Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, John Bolton, mengatakan bahwa Iran merupakan dalang di balik sabotase kapal tanker Saudi di Uni Emirat Arab pertengahan Mei lalu.
Selain masalah sabotase kapal, Iran juga dianggap mengganggu stabilitas kawasan karena diduga mendukung pasukan pemberontak di Yaman, Houthi.

Saudi sendiri melancarkan serangan udara ke Yaman untuk menggempur Houthi yang sudah menguasai Istana Kepresidenan di Sanaa sejak 2015 lalu.

Baru-baru ini, Iran juga kembali menyulut amarah negara kawasan ketika Presiden Hassan Rouhani mengancam akan kembali melakukan pengayaan uranium negaranya, salah satu poin penting dalam kesepakatan nuklir.
Rouhani mengancam akan melanjutkan pengayaan uranium jika negara Eropa yang tergabung dalam perjanjian nuklir 2015 atau JCPOA tidak membela Teheran dari sanksi Washington.

Perjanjian yang digagas di era Barack Obama itu menyepakati bahwa negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran. 

Sebagai balasan, Iran harus menyetop segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklirnya, termasuk pengayaan uranium.

[Gambas:Video CNN]

Namun, di bawah komando Presiden Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.

Sejak ultimatum Rouhani tersebut, AS dan Iran terus saling melontarkan ancaman dan beradu mulut. Trump bahkan mengerahkan kapal induk dan sejumlah pesawat pengebom ke Timur Tengah.

Meski demikian, Iran telah menegaskan bahwa negaranya tak berminat untuk berperang di kawasan. (has/has)