"Intervensi rezim Iran terhadap urusan dalam negeri negara lain di kawasan, pengembangan program nuklir dan rudal, semuanya mengancam kebebasan pelayaran internasional adalah ancaman terhadap pasokan minyak global," ujar Salman.
Melanjutkan pernyataannya, Salman berkata, "Tindakan kriminal ini membuat kita emua harus bekerja serius mempertahankan keamanan negara-negara Teluk."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saudi sendiri melancarkan serangan udara ke Yaman untuk menggempur Houthi yang sudah menguasai Istana Kepresidenan di Sanaa sejak 2015 lalu.
Baru-baru ini, Iran juga kembali menyulut amarah negara kawasan ketika Presiden Hassan Rouhani mengancam akan kembali melakukan pengayaan uranium negaranya, salah satu poin penting dalam kesepakatan nuklir.
Perjanjian yang digagas di era Barack Obama itu menyepakati bahwa negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran.
Sebagai balasan, Iran harus menyetop segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklirnya, termasuk pengayaan uranium.
[Gambas:Video CNN]
Namun, di bawah komando Presiden Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.
Sejak ultimatum Rouhani tersebut, AS dan Iran terus saling melontarkan ancaman dan beradu mulut. Trump bahkan mengerahkan kapal induk dan sejumlah pesawat pengebom ke Timur Tengah.
Meski demikian, Iran telah menegaskan bahwa negaranya tak berminat untuk berperang di kawasan. (has)