Peringati Tiananmen, AS Tuntut China Bebaskan Tahanan Politik

CNN Indonesia | Selasa, 04/06/2019 14:48 WIB
Peringati Tiananmen, AS Tuntut China Bebaskan Tahanan Politik Menlu AS, Mike Pompeo, mendesak China membebaskan semua tahanan politik dalam rangka peringatan tiga dekade tragedi pembantaian demonstran pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen. (Reuters/Aaron P. Bernstein)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat mendesak China untuk membebaskan semua tahanan politik dalam rangka peringatan tiga dekade tragedi pembantaian demonstran pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen.

"Kami mendesak China membebaskan semua yang ditahan karena memperjuangkan hak dan kebebasannya," ujar Pompeo sehari menjelang peringatan tragedi Tiananmen, Senin (3/6).
Dalam kesempatan itu, Pompeo juga mendesak agar China "menghentikan semua penahanan sewenang-wenang, dan menghapus semua kebijakan yang kontraproduktif dengan upaya memberantas terorisme dengan agama dan politik."

Tak hanya itu, Pompeo juga meminta China merilis angka resmi jumlah demonstran yang tewas dalam tragedi berdarah pada 4 Juni 1989 tersebut.


Sampai saat ini, China memang belum mengungkap jumlah pasti pengunjuk rasa yang tewas dalam insiden di Tiananmen tersebut. Sejumlah organisasi internasional memperkirakan tragedi itu merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa.
Tragedi tersebut bermula dari serangkaian demonstrasi pro-reformasi di sejumlah titik di China pada pertengahan 1989.

Demonstrasi memuncak ketika mahasiswa dan massa dari berbagai kalangan menduduki lapangan Tiananmen. 

Setelah beberapa pekan, pada 4 Juni 1989, militer China membelah lautan massa dengan tank dan mulai menembaki kerumunan. Jasad para korban dilaporkan bergelimpangan di Tiananmen kala itu.

[Gambas:Video CNN]

Di China, sejarah itu dikubur dalam-dalam. Namun, para demonstran yang selamat dan berhasil kabur dari China masih terus menceritakan kisah tersebut agar tak hilang ditelan masa.

Namun, mereka mulai hilang harap setelah Presiden Xi Jinping naik takhta. Dengan berbagai cara, Xi membungkam semua hal yang dapat menggoyahkan kepemimpinannya, termasuk soal Tiananmen.

"Setelah beberapa dekade, AS berharap integrasi China ke sistem internasional dapat membawa negara ke arah masyarakat yang terbuka dan toleran. Harapan itu kini pupus," kata Pompeo. (has/has)