Dugaan Kelalaian Presiden Sri Lanka Cegah Teror Bom Diusut

CNN Indonesia | Minggu, 09/06/2019 17:46 WIB
Dugaan Kelalaian Presiden Sri Lanka Cegah Teror Bom Diusut Pemakaman korban bom Sri Lanka. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perseteruan politik di Sri Lanka antara Presiden Maithripala Sirisena dan Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe kembali memanas. Penyebabnya adalah sang PM hendak mengusut kegagalan pemerintah dalam mencegah aksi teror bom pada 21 April lalu, melalui panitia khusus (pansus / PSC) di parlemen.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (9/6), Wickremesinghe dilaporkan memimpin langsung pansus parlemen itu. Tujuannya adalah menyelidiki dugaan kelalaian pemerintah dalam mendeteksi potensi aksi teror militan Islam yang menyerang sejumlah gereja dan hotel saat perayaan Paskah.
Pada Kamis lalu, Kepala Kepolisian Sri Lanka, Irjen Pujith Jayasundara, mengaku di hadapan pansus bahwa Sirisena mendesaknya untuk mundur dan bertanggung jawab atas kegagalan mencegah serangan teror. Dia juga dijanjikan akan dijadikan duta besar jika melakukan hal itu.

Akan tetapi, Jayasundara menolak berhenti dari jabatannya. Meski begitu, dia dipaksa mengambil cuti.


Mantan Menteri Pertahanan Sri Lanka, Hemasiri Fernando, juga menyatakan dia diperintah oleh Sirisena supaya tidak mengikutsertakan Wickremesinghe dari rapat dewan keamanan.

"Seluruh pejabat negara yang dipanggil oleh pansus harus memenuhinya untuk memberikan keterangan," kata Ketua Parlemen Sri Lanka, Karu Jayasuriya.

Sehari setelahnya, Sirisena mengancam akan membubarkan pansus.

"Saya tidak menerima pansus itu dan tidak akan mengirim anak buah untuk ditanyai oleh mereka," kata Sirisena.

[Gambas:Video CNN]

Meski demikian, sumber menyatakan salah seorang menteri di kabinet berhasil menenangkan Sirisena untuk mengurungkan niatnya itu. Akan tetapi, Sirisena memutuskan mencopot kepala badan intelijen, Sisira Mendis.

Mendis sebelumnya mengaku di hadapan pansus sebenarnya serangan itu bisa dicegah.

Sirisena juga dikritik habis oleh oposisi di parlemen karena melawat ke China selama tiga hari, bertepatan dengan kerusuhan anti-Muslim di negara mayoritas Buddha itu yang merebak usai serangan bom. Dia juga dicibir tetap menggelar pesta pernikahan bagi anaknya pada 9 Mei lalu saat keadaan keamanan tengah genting.

Sirisena mengklaim lawatannya ke China justru demi negara, dan pesta pernikahan anaknya tidak digelar secara mewah.
Serangan teror diduga dilakukan oleh kelompok Jemaah Tauhid Nasional (NTJ) pada 21 April itu merenggut nyawa lebih dari 250 orang dan melukai sekitar 500 orang. Pemerintah Sri Lanka dilaporkan sudah diberi tahu rencana aksi keji itu oleh intelijen India, tetapi tidak dihiraukan.

Alhasil karena polemik ini tingkat keterpilihan Sirisena dalam menghadapi pemilihan presiden tahun ini dipastikan menurun. Kemungkinan kandidat terkuat yang akan menggantikannya adalah mantan panglima angkatan bersenjata Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa. (ayp/ayp)