Korut Minta AS Kembali Berlakukan 'Kebijakan Permusuhan'

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 12/06/2019 03:54 WIB
Korut Minta AS Kembali Berlakukan 'Kebijakan Permusuhan' Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un dalam pertemuan keduanya di Hanoi, Vietnam, Februari 2019. (REUTERS/Leah Millis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Korea Utara kembali angkat bicara terkait upaya pelucutan senjata nuklir.

Hal ini ditunjukkan ketika Korut meminta agar Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan 'kebijakan bermusuhan' yang sempat diterapkan negara adidaya tersebut. Pernyataan ini disampaikan pemerintah Korut pada Selasa (11/6), sehari sebelum satu tahun peringatan pertemuan bersejarah antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump.

Pertemuan pertama kedua pemimpin ini dilakukan pada 12 Juni 2018 di Singapura dan menghasilkan penandatanganan kesepakatan yang masih samar-samar untuk mencapai denuklirisasi sepenuhnya.

Namun, pertemuan kedua di Vietnam pada Februari lalu gagal mencapai suatu kesepakatan. Penyebabnya adalah penolakan Korut untuk melucuti senjata nuklir meski sempat diiming-imingi bebas dari sanksi internasional.

Dalam pertemuan di Vietnam, AS mencari kesepakatan denuklirisasi yang lebih cepat, sementara Korut ingin agar hal tersebut dilakukan secara bertahap.

Korut akan melucuti senjata nuklir Yongbyon asalkan dibebaskan dari sanksi ekonomi yang selama ini diterimanya. Namun, syarat itu ditolak oleh AS.

Atas kejadian tersebut, Korut menganggap AS telah melakukan itikad buruk.

Sementara itu, media Korut, KCNA, juga melaporkan bahwa hasil pertemuan di Singapura antara Kim Jong-Un dan Donald Trump nampaknya akan berubah menjadi 'dokumen tak berguna' lantaran AS menghindari pelaksanaan isi kesepakatan yang dibuat.

KCNA menambahkan 'kebijakan egois dan sepihak' AS tidak akan pernah berfungsi pada Korut.

"Kesabaran Republik Rakyat Demokratik Korea Utara juga ada batasnya. Sekarang waktunya AS kembali ke 'kebijakan permusuhan' mereka," lapor kantor berita KCNA.

Hingga bulan lalu, Korut semakin memperkeruh suasana dengan meluncurkan proyektil jarak pendek pertama kalinya sejak November 2017.

Perselisihan kedua negara tersebut juga menarik Presiden Korea Selatan Moon Jae-in untuk turut angkat bicara. Dirinya membenarkan adanya pembicaraan yang sedang berlangsung terkait rencana pertemuan ketiga antara Korut dan AS.

Moon juga menambahkan, Pyongyang telah menahan diri untuk tidak melakukan tes serangan rudal jarak jauh selama lebih dari satu setengah tahun.

"Trump dan Kim terus menunjukkan kepercayaan satu sama lain dan keinginan untuk berdialog," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]


(asr/asr)