Paramedis Palestina Tewas Akibat Serangan Pasukan Israel

CNN Indonesia | Rabu, 12/06/2019 16:07 WIB
Paramedis Palestina Tewas Akibat Serangan Pasukan Israel Bentrokan warga Jalur Gaza, Palestina, dengan pasukan Israel. (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang paramedis asal Palestina, Mohammed al-Jdaili, yang sempat dirawat usai tertembak oleh tentara Israel dalam kerusuhan di perbatasan Jalur Gaza meninggal pada Senin (10/6) lalu.

Organisasi Bulan Sabit Merah Palestina menginformasikan bahwa Jdaili menerima tembakan peluru berlapis karet di bagian wajah ketika dirinya tengah menjalankan tugas kemanusiaan di utara Jalur Gaza pada 3 Mei.
Selain itu, kantor berita resmi Palestina, Wafa, juga melaporkan Jdaili terluka ketika sedang menolong para korban terluka dekat pagar perbatasan di Jabalia, utara Jalur Gaza.

Seperti dilansir AFP, Rabu (12/6), Jdaili dirawat di Hebron, Tepi Barat, sejak insiden penyerangan itu terjadi. Sejauh ini belum ada tanggapan apapun dari pihak militer Israel.


Di hari ketika Jdaili diserang, dua tentara Israel juga ikut terluka karena serangan tembakan.

Insiden tersebut memicu aksi saling serang selama dua hari berturut-turut. Ratusan roket diluncurkan dari jalur Gaza ke Israel. Alhasil, negara Yahudi itu pun tak mau kalah dengan menargetkan belasan sasaran sebagai serangan balik ke Palestina.
Setidaknya 294 warga Palestina menjadi korban tewas akibat serangan pasukan Israel. Sedangkan sekitar enam warga Israel juga ikut berjatuhan.

Sejak Maret 2018, warga Palestina telah berkumpul di sepanjang pagar perbatasan yang dijaga ketat oleh pasukan Israel. Mereka menuntut agar Israel menghentikan aksi blokade yang melumpuhkan jalur tersebut.

Sementara itu, Israel menuduh Hamas yang menjadi dalang aksi protes yang kerap disertai kekerasan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada tiga paramedis Palestina lain yang ikut terbunuh dalam aksi protes di perbatasan Gaza.
Salah satu kasus yang menyita perhatian dunia adalah tewasnya Razan Najjar (22) pada Juni 2018. Najjar merupakan anggota paramedis dari Palestina yang pada saat itu sedang melaksanakan tugas di wilayah perbatasan penuh konflik tersebut. (ajw/ayp)