Istri PM Israel Sepakat Mengaku Bersalah dalam Kasus Korupsi

CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 16:55 WIB
Istri PM Israel Sepakat Mengaku Bersalah dalam Kasus Korupsi Sara Netanyahu, istri PM Israel, Benjamin Netanyahu, mencapai kesepakatan untuk mengaku bersalah atas kasus penyelewengan dana yang menyeret namanya. (Amit Shabi/Pool/AFP
Jakarta, CNN Indonesia -- Sara Netanyahu, istri Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mencapai kesepakatan untuk mengaku bersalah atas kasus penyelewengan dana yang menyeret namanya.

Kantor jaksa Israel menyatakan bahwa dalam kesepakatan pada Rabu (12/6) itu, Sara sepakat mengaku bersalah atas kasus penggunaan dana negara untuk ratusan makanan pribadi dengan timbal balik keringanan hukuman.
Dalam kesepakatan tersebut, Sara juga harus membayar denda 10 ribu shekel atau setara Rp39,7 juta. Sara juga diwajibkan membayar ganti rugi negara sebesar 45 ribu shekel atau Rp178,7 juta.

Sebagaimana dilansir AFP, kesepakatan ini akan dibawa ke persidangan pada 16 Juni mendatang. Pengadilan harus terlebih dulu menyetujui kesepakatan ini sebelum diterapkan.


Sara pertama kali didakwa pada Juni 2018 atas kasus penipuan dan pelanggaran kepercayaan karena menyalahgunakan uang negara untuk membayar makanan senilai US$100 ribu dengan dalih tak ada masakan tersedia di rumah dinas perdana menteri.
Merujuk pada surat dakwaan, pelanggaran ini terjadi antara 2010 dan 2013. Saat itu, Sara dan keluarganya "dengan menipu (menerima) ratusan makanan" yang dipesan dari berbagai cabang bisnis di Yerusalem.

Sara sendiri kerap kali tampil di hadapan publik mendampingi Benjamin Netanyahu sehingga pemberitaan mengenai rentetan kasus yang menjeratnya selalu mendapat perhatian besar.

Selain pemesanan makanan, Sara juga terseret kasus penganiayaan staf. Pada 2016, Sara diwajibkan membayar US$47 ribu untuk ganti rugi kepada pelayan rumahnya karena penganiayaan di tempat kerja.

[Gambas:Video CNN]

Benjamin Netanyahu sendiri juga tengah menghadapi sejumlah kasus, mulai dari suap, penipuan, hingga pelanggaran kepercayaan.

Namun, Netanyahu dilaporkan sedang berupaya mencari celah untuk membuat aturan agar ia diberikan imunitas.

Rentetan kasus ini membuat popularitas Netanyahu kian merosot. Dalam pemilu lalu, ia bahkan tak dapat membentuk koalisi pemerintahan sehingga Israel harus menggelar pemungutan suara putaran kedua pada 17 September mendatang. (has)