Arab Saudi Tangkap Lima WN Sri Lanka Terkait Bom Paskah

CNN Indonesia | Jumat, 14/06/2019 18:00 WIB
Arab Saudi Tangkap Lima WN Sri Lanka Terkait Bom Paskah Ilustrasi aparat Sri Lanka di gereja yang menjadi lokasi serangan bom saat Paskah pada 21 April. (REUTERS/Dinuka Liyanawatte)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Arab Saudi memulangkan lima warga Sri Lanka diduga terkait dengan jaringan teroris yang melakukan serangan bom saat Paskah pada 21 April lalu. Kelimanya ditangkap di Jeddah.

"Anggota Departemen Penyelidikan Kejahatan membawa terduga ke Sri Lanka hari ini," kata juru bicara Kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekera, seperti dilansir AFP, Jumat (14/6).
Di antara kelima orang yang ditangkap adalah Mohamed Milhan. Dia adalah tokoh senior kelompok Jemaah Tauhid Nasional (NTJ), yang diduga menjadi dalang dalam aksi teror yang merenggut 258 nyawa dan melukai sekitar 500 orang.

Ini adalah kedua kalinya aparat menangkap terduga teroris terlibat serangan teror di Sri Lanka yang berada di luar negeri. Mei lalu, Panglima Angkatan Bersenjata Mahesh Senanayake menyatakan dua terduga teroris dibekuk di Qatar dan Arab Saudi.


Hingga saat ini aparat Sri Lanka menangkap lebih dari 100 orang yang diduga terlibat jejaring teroris, NTJ, serta pihak yang diduga dalang serangan teror, Zahran Hashim.
Kemarin regu antiteroris India menggerebek sejumlah lokasi di Kota Coimbatore, Negara Bagian Tamil Nadu. Mereka memburu seorang terduga teroris, Mohammed Azarudeen (32), yang diduga dekat dengan terduga dalang teror bom Paskah di Sri Lanka, Zahran Hashim. Namun, mereka tidak berhasil menangkap Azarudeen.

Zahran yang memimpin organisasi Jemaah Tauhid Nasional (NTJ) disebut sebagai dalang dan pelaku teror bom itu. Dia dilaporkan meninggal dalam serangan bom bunuh diri.

Intelijen India dilaporkan sudah memberi tahu soal ancaman serangan teror kepada aparat Sri Lanka. Namun, diduga karena pertikaian politik antara Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena, dan Perdana, Menteri Ranil Wickremesinghe, mereka gagal mencegahnya.

[Gambas:Video CNN]

Diduga informasi itu sengaja disembunyikan sehingga kedua belah pihak kini saling menyalahkan.

Catatan redaksi: redaksi mengubah judul sebelumnya karena ada kekeliruan dari kantor berita yang disadur. (ayp/ayp)