Massa Bubarkan Diri dari Depan Parlemen Hong Kong

CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 12:20 WIB
Massa Bubarkan Diri dari Depan Parlemen Hong Kong Massa sudah membubarkan diri dari depan parlemen Hong Kong setelah sempat memblokir jalur utama tersebut sehari setelah demonstrasi menolak RUU ekstradisi. (Reuters/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Massa dilaporkan sudah membubarkan diri dari jalan protokol di depan parlemen Hong Kong setelah sempat memblokir jalur utama tersebut sehari setelah demonstrasi menolak rancangan undang-undang ekstradisi pada Senin (17/6).

AFP melaporkan bahwa massa membubarkan diri setelah kepolisian meminta ratusan orang itu untuk membuka kembali jalan yang biasanya sibuk tersebut.
Demonstran menuruti permintaan kepolisian itu tanpa konfrontasi lebih lanjut. Sebagian besar pengunjuk rasa berpindah tempat ke taman terdekat.

Pemerintah Hong Kong sendiri sudah menutup kantor pemerintahan pusat sebagai upaya antisipasi aksi mogok sehari setelah demonstrasi besar-besaran untuk menolak RUU ekstradisi.


"Karena akses jalan menuju Kantor Pemerintahan Pusat (CGO) diblokir, CGO akan tutup sementara hari ini," demikian pernyataan pemerintah Hong Kong seperti dilansir The Straits Times.
Hingga Senin pagi, massa memang dilaporkan masih menguasai jalan-jalan protokol di Hong Kong, meski jumlahnya sudah jauh berkurang dari sehari sebelumnya.

Akibat penutupan jalan oleh massa ini, sekitar 70 rute bus terkena dampak. Akhirnya, 10 rute bus ditutup, sementara yang lainnya dialihkan.

Meski demikian, pemandangan ini sudah jauh lebih baik dari Minggu, saat para demonstran yang kebanyakan berpakaian hitam mengular, memenuhi jalan-jalan menuju gedung parlemen Hong Kong.

Para penggerak massa memperkirakan jumlah demonstran dua kali lipat ketimbang aksi-aksi sebelumnya, bahkan diperkirakan memecahkan rekor hingga 7,3 juta jiwa.

[Gambas:Video CNN]

Perkiraan ini belum terkonfirmasi. Namun, jika benar, aksi ini akan menjadi demonstrasi terbesar dalam sejarah Hong Kong.

Ini merupakan aksi ketiga dari dua unjuk rasa sebelumnya yang berujung ricuh. Melihat amarah warga ini, pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, pun meminta maaf dan menangguhkan pembahasan RUU ekstradisi.

Hong Kong memang sedang menggodok RUU ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di luar negeri, termasuk China.

Proposal aturan ini menyulut amarah warga setempat karena khawatir akan sistem pengadilan China yang kerap bias dan dipolitisasi. (has/has)