Tangis Kardinal dan Kisah Romo WNI Dukung Demo Hong Kong

CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 15:24 WIB
Tangis Kardinal dan Kisah Romo WNI Dukung Demo Hong Kong Tangis Kardinal Gereja Katolik Hong Kong, Joseph Chan, mendorong seorang romo asal Indonesia untuk mendampingi umat mengikuti demonstrasi tolak RUU ekstradisi. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tangis Kardinal Gereja Katolik Hong Kong, Joseph Chan, pecah ketika memimpin misa sebelum umatnya mengikuti demonstrasi untuk menolak rancangan undang-undang ekstradisi pekan lalu. Alir air mata itu mendorong seorang romo asal Indonesia, Heribertus Hadiarto, untuk menemani umat ke pusat aksi.

"Ketika misa, dalam khotbahnya, Kardinal Joseph Chan sempat meneteskan air mata. Tangisan sang kardinal yang sudah tua itu mendorong untuk pergi berdiri bersama umat di tempat protes," kata Heribertus dalam catatan kisahnya yang dikirimkan ke CNNIndonesia.com, Minggu (16/6).

Kala misa usai sekitar pukul 14.30 waktu setempat, Heri, begitu romo tersebut biasa disapa, langsung bergegas ke lokasi demonstrasi.


Dalam perjalanan, ia tak lupa membeli air dan makanan untuk umat lain yang sudah lebih dulu berunjuk rasa pada Rabu (12/6) siang itu.

"Saya membawa beberapa galon air melewati ribuan massa. Para protes begitu semangat saling membantu, membagikan air, handuk kecil, payung, masker, dan plastik sampah kepada yang lain, sambil tetap menyanyikan lagu Sing Hallelujah to the Lord," tutur Heri.
Ketika massa semakin banyak, Heri dan sejumlah umat lainnya masuk ke sudut kerumunan agar lebih nyaman. Sekitar satu jam kemudian, Heri izin pulang. Ia harus melewati jembatan menuju kereta karena jalur sudah diblokir.

"Saat di tengah jembatan itulah, tembakan gas air mata terjadi di depan kantor pemerintah. Tembakan tidak langsung ke arah jembatan, tapi akibat gas itu sampai ke atas jembatan, mata agak perih dikit," kata Heri.

Heri langsung mencari air minum untuk membersihkan sisa gas air mata yang membuat pelupuknya perih. Saat kalut seperti itu, Heri terharu dengan sikap seorang anak muda yang memberinya pelindung.

"Seorang anak muda memberi saya pelindung penutup mata, luar biasa hatinya," ucapnya.
Tangis Kardinal dan Kisah Romo WNI Dukung Demo Hong KongSeorang pemuda memberikan Heribertus penutup wajah. (Dok. Istimewa)
Berhasil menerobos massa, Heri dan sejumlah umat Katolik lainnya akhirnya masuk ke dalam kereta. Pintu langsung tertutup tak lama setelah mereka masuk.

Dari dalam kereta, mereka dapat menyaksikan jelas yang terjadi di tengah demonstrasi, termasuk ketika petugas menembakkan gas air mata untuk kedua kalinya.

"Yah, akibat tembakan gas air mata itu, massa mundur ke jalan seberang di Pacific Place. Lalu saya kontak romo lain dan umat yang ada di situ dan semua aman. Jadi, saya aman-aman saja sampai saat ini," tulis Heri.

Sebelumnya, Heri sendiri mengaku kepada CNNIndonesia.com bahwa ia tidak mengetahui ada atau tidak aturan dari pemerintah Hong Kong mengenai peserta warga asing dalam demonstrasi.
Namun, Heri menegaskan bahwa kehadirannya dalam demonstrasi tersebut murni untuk mendukung aspirasi masyarakat Hong Kong, terutama umat Katolik.

Hong Kong kini memang sedang panas karena pemerintah menggodok RUU mengenai ekstradisi yang memungkinkan seorang tersangka satu kasus diadili di luar negeri, termasuk China.

Proposal aturan ini menyulut amarah warga setempat karena khawatir akan sistem pengadilan China yang kerap bias dan dipolitisasi.

"Saya datang untuk mendukung umat, tapi secara pribadi saya juga menolak RUU ini karena pengaruhnya bukan hanya untuk warga Hong Kong, tapi siapa saja termasuk warga asing, khususnya berhubungan dengan politik, bisa diadili di China," tutur Heri.

[Gambas:Video CNN]

Jika RUU ekstradisi itu benar-benar diloloskan, Heri khawatir kebebasan beragama di Hong Kong dapat terbelenggu seperti di China.

"Jangan sampai Hong Kong seperti China. Banyak uskup dan pastor hilang begitu saja. Kalau China bisa masuk begitu, kebebasan di Hong Kong mungkin akan seperti di China. Oleh karena itu, saya pribadi menolak RUU ekstradisi itu," katanya.

Kini, pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, sudah meminta maaf kepada para demonstran dan menangguhkan pembahasan RUU ekstradisi sampai waktu yang tidak ditentukan. Namun, Heri tak pernah menyesal mengikuti demonstrasi RUU ekstradisi itu.

"Bagi banyak orang, solidaritas ini tidak biasa dan penuh risiko. Ada yang mengatakan, 'Untuk apa berdiri bersama umat? Doa saja dari jauh.' Namun bagiku, menjadi misionaris berarti bersedia berdiri bersama mereka yang sudah kehilangan harapan untuk memberi secercah harapan," katanya. (has/has)