Erdogan Salahkan 'Tirani' Mesir atas Kematian Mursi

CNN Indonesia | Selasa, 18/06/2019 06:20 WIB
Erdogan Salahkan 'Tirani' Mesir atas Kematian Mursi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyalahkan 'tirani' Mesir atas kematian mantan presiden Mohammed Mursi usai pingsan di pengadilan pada Senin (17/6). (Reuters/Umit Bektas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyalahkan "tirani" Mesir atas kematian mantan presiden Mohammed Mursi yang mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit Kairo usai pingsan di pengadilan pada Senin (17/6).

"Sejarah tidak akan melupakan tirani yang menyebabkan kematiannya dengan memenjarakannya dan mengancamnya dengan eksekusi," ujar Erdogan dalam pidato di Istanbul yang disiarkan di televisi nasional Turki.
Erdogan memang merupakan salah satu sekutu terdekat Mursi. Namun, relasi Turki dan Mesir nyaris tak ada setelah Abdel Fattah al-Sisi memimpin kudeta militer dan merebut takhta kepresidenan dari tangan Mursi pada 2013 lalu.

Sejak saat itu, Sisi melakukan operasi besar-besaran untuk membungkam dan mengadili para pendukung Mursi yang kebanyakan merupakan anggota Ikhwanul Muslimin.


Kini, Erdogan pun menyebut kematian Mursi sebagai "simbol persekusi yang menargetkan Mursi dan pendukungnya. Ia pun menganggap Mursi sebagai martir.

"Di mata kami, Mursi adalah martir yang kehilangan nyawanya demi hal yang ia yakini," ucap Erdogan sebagaimana dikutip AFP.
Erdogan Salahkan 'Tirani' Mesir atas Kematian MursiMohammed Mursi meninggal dunia setelah pingsan saat menjalani persidangan pada Senin (17/6). (Asmaa Waguih)
Tak hanya Erdogan, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, juga mengucapkan belasungkawa atas kematian Mursi.

"Kudeta menggulingkannya dari kekuasaan, tapi sejarahnya tidak akan pudar," katanya.
Sebelumnya, Ikhwanul Muslimin juga menyalahkan Mesir atas "kematian perlahan yang disengaja" Mursi.

"(Otoritas Mesir) memasukkannya ke sel isolasi. Mereka menahan obat-obatan dan memberinya makanan yang menjijikkan. Mereka tidak memberinya hak asasi yang paling mendasar," demikian pernyataan Partai Kebebasan dan Keadilan bentukan Ikhwanul Muslimin. 

Namun, stasiun televisi Mesir langsung menyiarkan berbagai berita yang menyebut Ikhwanul Muslimin sebagai "kelompok teroris" dan mengulang-ulang slogan "Ikhwanul Muslimin pembohong."
Meski demikian, sejumlah kelompok internasional juga menduga perlakuan buruk di penjara berpengaruh pada kematian Mursi.

Pada Mei 2015 lalu, sekelompok anggota parlemen Inggris juga sudah memperingatkan bahwa kondisi tahanan Mursi tak memenuhi standar internasional dan dapat mengakibatkan "kematian prematur." (has/has)