Pemimpin Hong Kong Janji Tunda Pembahasan RUU Ekstradisi

CNN Indonesia | Rabu, 19/06/2019 10:08 WIB
Pemimpin Hong Kong Janji Tunda Pembahasan RUU Ekstradisi Ilustrasi unjuk rasa menolak pembahasan RUU Ekstradisi di Hong Kong. (Reuters/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, memberi sinyal tidak akan melanjutkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi yang memicu unjuk rasa besar-besaran. Namun, dia tidak memberi kepastian apakah akan menarik pembahasan RUU itu dari dewan legislatif.

"Karena RUU ini selama beberapa bulan terakhir sudah menimbulkan kecemasan, kekhawatiran dan perbedaan pendapat, saya tidak akan melanjutkan proses legislasi ini jika rasa takut dan khawatir ini tidak berakhir," kata Lam dalam jumpa pers kemarin, seperti dilansir Reuters, Rabu (19/6).
Pernyataan Lam ini serupa dengan yang dia sampaikan pada Sabtu pekan lalu, ketika dia menyampaikan permohonan maaf dan berjanji menunda pembahasan RUU itu.

Dalam jumpa pers itu, Lam juga berkali-kali dicecar oleh para pewarta apakah akan mundur setelah melihat situasi ini. Namun, dia menyatakan akan mempertahankan jabatannya.


"Setelah kejadian ini, saya pikir masa kerja selama tiga tahun ke depan akan sangat sulit, tetapi saya dan seluruh staf akan bekerja lebih keras untuk kembali meraih kepercayaan masyarakat," kata Lam.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah pegiat Hong Kong tidak yakin Lam akan memenuhi janji. Koordinator lembaga Front Hak Asasi Manusia Sipil Hong Kong, Jimmy Sham, berharap seluruh masyarakat setempat harus bersatu untuk melawan aturan yang dianggap zalim.

Hong Kong memang sedang menggodok RUU ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di luar negeri, termasuk China.

Proposal aturan ini menyulut amarah warga setempat karena khawatir akan sistem pengadilan China yang kerap bias dan dipolitisasi. (ayp/ayp)