Trump Enggan FBI Dilibatkan Usut Pembunuhan Khashoggi

CNN Indonesia | Senin, 24/06/2019 09:45 WIB
Trump Enggan FBI Dilibatkan Usut Pembunuhan Khashoggi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (REUTERS/Sam Goresh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, enggan memenuhi permintaan untuk melibatkan Biro Penyelidik Federal (FBI) dalam mengusut dugaan kematian jurnalis Jamal Khashoggi. Wartawan dan kolumnis surat kabar The Washington Post itu dibunuh di Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul pada Oktober 2018.

"Saya pikir masalah itu sudah diselidiki secara mendalam oleh banyak pihak. Maksud saya, saya sudah membaca segala macam laporan (soal pembunuhan Khashoggi)," kata Trump, seperti dilansir The Guardian, Senin (24/6).
Saat disinggung soal apakah dia bersikap tutup mata soal pembunuhan Khashoggi karena Saudi meneken kontrak sebesar US$14,5 miliar untuk pembelian senjata dari AS, Trump membela diri dengan menyatakan Saudi memang salah satu sekutu mereka yang setia dan tidak segan menghamburkan uang membeli perlengkapan militer.

"Saya tidak seperti orang bodoh yang mengatakan, 'Kami tidak mau berbisnis dengan mereka.' Lagipula jika mereka tidak berbisnis dengan kita, kamu tahu apa yang mereka lakukan? Mereka akan berbisnis dengan Rusia dan China," ujar Trump.


"Kita membuat peralatan terbaik di dunia, tetapi mereka (Arab Saudi) akan membeli peralatan bagus dari Rusia dan China," lanjut Trump.

Pekan lalu, Senat AS memutuskan menolak mengesahkan kontrak pembelian persenjataan Arab Saudi. Tujuh senator fraksi Republik mendukung keputusan faksi Demokrat. Trump lantas menyatakan bakal menggunakan hak veto dan melanjutkan kontrak pembelian itu.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, menolak laporan pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menyimpulkan ada dugaan kuat bahwa Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi. Dia menyatakan pelapor khusus PBB, Agnes Callamard, hanya mempolitisasi perkara itu.
Setelah melakukan investigasi selama enam bulan, Callamard menyimpulkan Arab Saudi "melakukan eksekusi yang disengaja dan direncanakan sebelumnya" terhadap Khashoggi. Hal itu diutarakannya dalam laporan setebal 100 halaman.

Meski sempat membantah, Saudi akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas di dalam gedung konsulatnya. Namun, Riyadh berkeras bahwa kerajaan tak terlibat pembunuhan jurnalis itu.

Riyadh menegaskan pembunuhan itu dilakukan oleh pejabat Saudi dengan perintah gelap. Sejauh ini, jaksa Saudi telah mendakwa 11 tersangka terkait pembunuhan Khashoggi, lima di antaranya terancam hukuman mati.

Callamard menuturkan proses pengadilan di Saudi harus ditangguhkan dengan alasan khawatir atas potensi penyalahgunaan proses peradilan dan kerahasiaan.

[Gambas:Video CNN]

Jubeir menolak segala upaya untuk mempengaruhi proses hukum yang tengah berjalan di Saudi. Menurut dia Saudi akan mempertahankan hak untuk memproses hukum kasus Khashoggi.

Jubeir juga mengancam akan mengambil tindakan hukum sebagai tanggapan atas klaim Callamard tersebut. (ayp/ayp)