AS Disebut Gelar Serangan Siber Kepada Iran

CNN Indonesia | Minggu, 23/06/2019 18:09 WIB
AS Disebut Gelar Serangan Siber Kepada Iran Ilustrasi peretas. (REUTERS/Kacper Pempel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Angkatan bersenjata Amerika Serikat dilaporkan menggelar serangan siber terhadap Iran, selepas insiden drone intai AS yang ditembak jatuh karena menerobos wilayah Iran pada Kamis (20/6) lalu. Menurut laporan, serangan itu meretas sistem komputer Iran yang mengendalikan roket dan rudal mereka.

Seperti dilansir Associated Press, Minggu (23/6), menurut sumber di AS, Presiden Donald Trump menyetujui serangan itu. Dia juga disebut sedang merancang serangan konvensional untuk membalas Iran.
Serangan itu menargetkan meretas sistem komputer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). AS memasukkan mereka ke dalam daftar kelompok teroris.

Serangan siber ini adalah tahap lanjut dari perselisihan antara AS dan Iran. Kedua belah pihak disebut juga saling bertempur di dunia maya.


Selama beberapa pekan terakhir, sejumlah peretas yang diduga bekerja untuk Iran meretas beberapa sistem komputer lembaga-lembaga pemerintah swasta di AS seperti keuangan serta minyak dan gas. Para peretas juga menyebar serangan siber melalui surel dengan teknik phising.
Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan mereka sudah mengetahui ada peningkatan serangan siber terhadap Negeri Paman Sam. Mereka menyatakan melihat ada pola serangan itu diduga dari Iran.

"Dalam masa yang penuh ketegangan, sangat penting bagi semua pihak untuk mewaspadai serangan Iran di dunia maya dan memastikan pertahanan yang semestinya," demikian isi pernyataan pers Kementerian Keamanan Dalam Negeri.

Iran menembak pesawat mata-mata nirawak AS pada Kamis lalu karena disebut menerobos wilayah perairan mereka. Selain itu, mereka juga nyaris menembak jatuh pesawat intai Angkatan Laut AS, Boeing P-8, yang membawa puluhan awak.

Hal itu sempat memicu Trump murka dengan memerintahkan serangan balasan dengan mengerahkan pesawat tempur dan kapal perang mereka di Laut Mediterania. Namun, perintah itu dibatalkan dan Trump meminta pemerintah Iran berdialog.

[Gambas:Video CNN]

Meski demikian, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, menolak tawaran dialog. Kini hubungan di antara kedua negara masih tegang. (ayp/ayp)