Thailand Bakal Terapkan Larangan Merokok di Rumah

CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 09:20 WIB
Thailand Bakal Terapkan Larangan Merokok di Rumah Ilustrasi merokok. (REUTERS/Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Thailand hendak menerapkan larangan merokok di rumah bagi seluruh warganya. Larangan tersebut akan mulai dilaksanakan pada 20 Agustus mendatang.

Seperti dilansir asia one, Senin (24/6), penerapan larangan ini didasarkan pada bahaya kesehatan akibat paparan asap rokok yang mungkin dihirup anggota keluarga lain.
Peraturan ini diatur dalam Undang-Undang Promosi Pengembangan dan Perlindungan Keluarga.

Menurut Kepala Departemen Urusan Wanita dan Pengembangan Keluarga, Lertpanya Boordanabundit, merokok di dalam rumah dapat dikategorikan sebagai kekerasan dalam rumah tangga karena akan membahayakan kesehatan anggota keluarga yang menjadi perokok pasif.


"Jika dapat dibuktikan bahwa masalah kesehatan yang dialami anggota keluarga berasal dari perokok pasif di rumah, itu dapat mengarah pada dua pengadilan: satu di Pengadilan Kriminal untuk 'serangan domestik' melalui asap dan yang lainnya di Pengadilan Keluarga," kata Lertpanya.

"Ini dapat mengarah pada perintah pengadilan untuk melindungi kesehatan anggota keluarga, dimana perokok akan dikirim ke pusat rehabilitasi untuk menghilangkan kebiasaan (merokok)," ujar Lertpanya.
Sementara itu, klinik yang terbukti mengabaikan pasien muda yang terpapar asap rokok atau tidak mengirimkan perokok untuk segera mendapat rehabilitasi, akan dihukum karena melanggar Pasal 29 terkait Undang-Undang Perlindungan Anak.

Peraturan tersebut juga mengimbau para warga Negeri Gajah Putih untuk melapor ke pihak berwenang apabila mereka mengetahui ada anak yang terpapar asap rokok.

Menurut laporan dr. Ronnachai Kongsakon, dari Pusat Penelitian Pengendalian Tembakau dan Manajemen Pengetahuan, pihaknya telah menemukan hampir lima juta rumah tangga di Thailand memiliki anggota keluarga seorang perokok. Akibatnya, lebih dari 10 juta orang terpapar asap rokok di rumah.

Ia juga melaporkan, perokok pasif meningkatkan resiko sindrom kematian bayi mendadak. Hal ini juga meningkatkan persentase peluang anak mengidap bronkitis atau pneumonia sebesar 47 persen.
Sedangkan peluang wanita mengidap kanker paru-paru akibat menjadi perokok pasif meningkat 24 persen dan 19 persen bagi mereka yang bekerja di kantor di mana merokok diperbolehkan.

Thailand sendiri berencana untuk menghentikan konsumsi tembakau nasional setidaknya 30 persen pada 2025 mendatang. Hal ini dikarenakan sekitar 400 ribu warga Thailand meninggal setiap tahunnya akibat merokok. (ajw/ayp)