Palestina Kecewa Negara Arab Hadir di KTT Proposal Damai AS

CNN Indonesia | Rabu, 26/06/2019 16:22 WIB
Palestina Kecewa Negara Arab Hadir di KTT Proposal Damai AS Duta Besar Palestina, Zuhair Al Shun. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Palestina menyatakan kecewa terhadap sikap negara-negara Arab yang hadir di konferensi proposal damai Timur Tengah gagasan Amerika Serikat di Manama, Bahrain, kemarin, Selasa (25/6). Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al Shun, menganggap kehadiran negara-negara Arab di konferensi tersebut merupakan "tanda-tanda kelemahan."

"Sebagaimana kita ketahui, terdapat negara-negara Arab yang memang tunduk terhadap ajakan (AS) tersebut (untuk menghadiri konferensi) dan ini merupakan sebuah tanda-tanda kelemahan negara Arab," kata Al Shun dalam konferensi pers di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Rabu (26/6).
Konferensi itu digelar AS untuk menjabarkan rencana perdamaian gagasannya yang diklaim Presiden Donald Trump merupakan "kesepakatan abad ini" untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Dalam kesempatan itu, Al Shun kembali menegaskan sikap Palestina yang menolak proposal damai AS tersebut. Mengutip pernyataan Presiden Mahmoud Abbas, Al Shun menganggap proposal AS itu tidak pantas disebut sebagai rencana perdamaian lantaran berpihak pada Israel.


Menurut Al Shun, seluruh rekomendasi yang dihasilkan dalam konferensi di Manama selama selama dua hari itu hanya akan semakin menyulitkan dan merampas hak Palestina. Sebab, menurutnya, aspek ekonomi yang tertuang dalam proposal damai AS itu hanya akan menguntungkan Negeri Paman Sam dan sekutu dekatnya, Israel.

"Konferensi di Manama akan menghasilkan poin-poin rekomendasi yang hanya akan menyulitkan dan membuat rakyat Palestina lebih sedih lagi. Ini tidak dimulai dari niat yang tulus, tapi terdapat banyak kepentingan dari pengusaha AS dan Israel," papar Al Shun.
"Israel adalah sebuah mitra yang sebenarnya dari proyek damai yang dicetus Presiden Trump ini. Trump tidak menjadi penengah dalam perdamaian sama sekali. Upaya AS ini sia-sia karena Palestina tidak akan setuju, terutama terkait kesepakatan yang disebut 'kesepakatan abad ini'," ucapnya menambahkan.

Pernyataan itu diutarakan Al Shun sehari setelah penasihat sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, merilis proposal damai gagasan AS di Manama. Kali ini, AS mengungkap rencana mereka terkait penyelesaian konflik Palestina-Israel yang berfokus pada pembangunan ekonomi.

Dalam proposal itu, AS berencana mengumpulkan dana US$50 miliar atau Rp708 triliun bagi Palestina dan negara-negara tetangganya di kawasan. Gedung Putih mengatakan penggalangan dana ratusan triliun itu akan dilakukan untuk satu dekade ke depan.

Selain menggalang dana, Gedung Putih juga berencana menggandakan produk domestik bruto Palestina itu dalam satu dekade terakhir. Washington juga menargetkan dapat menurunkan tingkat pengangguran Palestina yang tinggi sebanyak satu digit dengan menciptakan jutaan lapangan kerja baru bagi rakyat Palestina.

[Gambas:Video CNN]

Selain AS dan Bahrain, konferensi itu dihadiri oleh delegasi dari Yordania, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Selain delegasi pemerintah, pengusaha-pengusaha dari negara-negara terkait juga ikut hadir dalam pertemuan itu. (rds/ayp)