Seperti dilansir AFP, Kamis (27/6), kabar itu disampaikan Maduro dalam pidato yang disiarkan ke seluruh negeri. Dia menyatakan memutuskan bersikap tegas untuk menangkal segala upaya kudeta kelompok fasis terhadap pemerintah revolusioner Venezuela.
Maduro menyatakan mereka mempunyai mata-mata yang berhasil menyusup ke dalam gerakan itu. Alhasil, kata dia, ada enam orang yang ditangkap terkait upaya kudeta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Maduro, otak kudeta itu adalah Presiden Kolombia Ivan Duque, Presiden Chile Sebastian Pinera, Penasihat Keamanan Presiden AS John Bolton, serta pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido.
Menurut pengakuan Carlos, upaya kudeta itu menargetkan tiga pangkalan militer, termasuk Lanud La Carlota di Ibu Kota Caracas.
Menurut Rodriguez, upaya kudeta itu hendak membunuh Maduro dan kemudian menggantinya dengan mantan menteri pertahanan, Raul Baduel. Dia adalah salah satu menteri dalam kabinet mendiang Hugo Chavez.
Akan tetapi, Maduro memutuskan mendepaknya dari kabinet bersama dengan Jenderal Antonio Rivera, yang juga dituduh menjadi pemimpin upaya kudeta.
[Gambas:Video CNN]
Kondisi ini menambah buruk krisis politik di Venezuela. Pada Januari lalu Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim. Dia juga sempat menggalang dukungan sejumlah tentara untuk memberontak terhadap pemerintah Maduro pada 30 April lalu, tetapi upaya itu gagal. (ayp/ayp)