Ehud Barak Kembali Berpolitik dan Berniat Kalahkan Netanyahu

CNN Indonesia | Kamis, 27/06/2019 18:22 WIB
Ehud Barak Kembali Berpolitik dan Berniat Kalahkan Netanyahu Ehud Barak. (REUTERS/Corinna Kern)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan perdana menteri Israel, Ehud Barak, menyatakan akan kembali ke panggung politik dengan mencalonkan diri sebagai kandidat PM. Dia menyatakan siap melawan petahana Benjamin Netanyahu yang belum lama ini menang dalam pemilihan umum, tetapi gagal membentuk pemerintahan karena jumlah mitra koalisinya tidak mencapai kuorum.

"Ini bukan waktunya hanya berdiam diri. Rezim Netanyahu yang fanatik buta dan korup harus diganti," kata Barak dalam jumpa pers di Tel Aviv, seperti dilansir Reuters, Kamis (27/6).
Barak juga sekaligus mengumumkan pembentukan partai baru, tetapi masih merahasiakan namanya. Dia hanya memberi kisi-kisi bakal berkoalisi dengan kelompok poros tengah dan sayap kiri untuk mengalahkan Partai Likud yang mendukung Netanyahu.

"Bibi (julukan Netanyahu) waktunya sudah tiba, kesempatan terakhir untuk Anda mundur tanpa paksaan," kata Barak.


Selepas jumpa pers, stasiun televisi Israel, Channel 12, menggelar jajak pendapat mengukur elektabilitas Barak dan partai barunya. Hasilnya mereka digadang bakal merebut enam dari 120 kursi di Parlemen Israel (Knesset).

Akan tetapi, kehadiran kembali Barak ke panggung politik diperkirakan bakal menggerus peluang pesaing utama Netanyahu, Benny Gantz. Dalam pemilu belum lama ini, perolehan suara Partai Biru Putih yang dipimpin Gantz hanya beda tipis dengan Partai Likud.

Latar belakang Barak juga sama dengan Netanyahu, yakni mantan perwira angkatan bersenjata. Dia merupakan perdana menteri pada 1999 sampai 2001 dan pernah menjadi ketua Partai Buruh, yang merupakan oposisi Partai Likud.
Prestasinya saat itu adalah berhasil menggelar perundingan damai dengan Suriah dan Palestina. Dia lantas pernah menjadi menteri pertahanan pada 2007 hingga 2013, di masa pemerintahan PM Ehud Olmert dan Netanyahu.

Setelah itu Barak memutuskan mundur dari politik dan fokus berbisnis. Dia mendirikan perusahaan dalam bidang keamanan siber, mengembangkan teknologi penyelamatan dan gawat darurat, serta industri ganja medis.

Di samping berwirausaha, Barak kerap mengkritik Netanyahu melalui media sosial. Di masa lalu, Barak adalah komandan Netanyahu ketika sama-sama ditempatkan di unit pasukan khusus Israel, Sayeret Matkal.

Kegagalan Bibi-sapaan akrab Benjamin Netanyahu-membentuk pemerintahan salah satunya karena ketegangan antara mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman dan kelompok Yahudi yang ultra-ortodoks. Lieberman sendiri dikenal sebagai sayap kanan yang sekuler.
Perdebatan yang terjadi adalah Lieberman, yang mantan menteri pertahanan, hendak memaksa muda-mudi Yahudi Ortodoks wajib berdinas di militer. Namun, partai beraliran Ultra Ortodoks menentang gagasan itu.

Bibi saat ini sedang terjerat sejumlah kasus dugaan korupsi.

Netanyahu sudah bolak-balik diperiksa kepolisian sejak skandal korupsi terungkap pada 2017 silam. (ayp/ayp)