Rencana perundingan lanjutan muncul setelah Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menginginkan kesepakatan damai antara AS dengan Taliban tercapai sebelum 1 September. Jangka waktu ini dipilih sebelum pemilu Afghanistan dimulai, karena negara Barat khawatir akan meningkatnya ketidakstabilan baru di negara tersebut.
"Setelah batas waktu penarikan pasukan asing ditetapkan di hadapan para pengamat internasional, kami akan mulai perundingan dengan pihak Afghanistan, tapi kami tidak akan berunding dengan pihak Kabul sebagai pemerintah," kata juru bicara dari kantor Taliban di Qatar, Suhail Shaheen, seperti dilansir Reuters, Selasa (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, utusan AS untuk perundingan dengan Taliban, Zalmay Khalilzad, mengatakan dialog antar warga Afghanistan menjadi bagian terpenting dalam kesepakatan damai ini.
Senada dengan pernyataan Khalilzad, utusan Jerman untuk Afghanistan dan Pakistan, Markus Potzel, menyatakan komponen penting dalam setiap proses perdamaian harus melibatkan langsung warga Afghanistan.
"Rakyat Afghanistan hanya akan ikut berpartisipasi sesuai dengan kapasitas pribadi mereka dan dalam pijakan yang setara," kata Potzel.
"Afghanistan berada pada situasi genting terkait dengan peluang untuk maju ke perdamaian," ujar Potzel.
Taliban sempat menolak melakukan negosiasi dengan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani. Upaya Ghani untuk menyatukan Taliban dengan pejabat Afghanistan di Doha gagal dan berakhir dengan perseteruan antara kedua pihak.
[Gambas:Video CNN]
Sementara, Jerman yang memegang peranan penting dalam dukungan internasional terhadap pemerintahan pasca-Taliban, serta Qatar yang masih mempertahankan hubungan dengan kelompok militan itu mengatakan bahwa mereka bersama-sama memperpanjang undangannya untuk perundingan di Doha pada Minggu mendatang dan Senin pekan depan. (ajw/ayp)