Prancis Kembalikan Ratusan Artefak Curian Kepada Pakistan

CNN Indonesia | Kamis, 04/07/2019 08:47 WIB
Prancis Kembalikan Ratusan Artefak Curian Kepada Pakistan Ilustrasi artefak. (ICE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Prancis dilaporkan telah mengembalikan sekitar 445 artefak curian kepada pemerintah Pakistan pada Selasa (2/7) lalu. Penyerahan itu dilakukan dalam sebuah upacara yang diadakan di Kedutaan Besar Pakistan di Paris.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (4/7), ratusan artefak curian itu di antaranya patung kuno, vas, guci dan piala yang beberapa berasal dari milenium kedua dan ketiga sebelum masehi.
Kumpulan artefak yang dikembalikan itu diperkirakan bernilai sekitar €139,000 atau Rp 2,2 miliar.

"Ini sungguh merupakan momen spesial bagi Pakistan," ujar Kepala Misi Pakistan, Muhammad Majad Aziz Qazi.


"Ini juga merupakan momen mengharukan bagi kami. Kami percaya, hari ini, bahwa sebagian dari warisan peninggalan Pakistan kembali ke tanah airnya," tambahnya.

Qazi menginformasikan bahwa proses untuk mengirim harta karun itu kembali ke Islamabad sedang dipersiapkan.

"Semoga segera. Kamu akan menemukannya (artefak) di salah satu museum terbaik yang kami punya di Pakistan," ujar Qazi.

Peninggalan bersejarah tersebut diketahui telah ada di Prancis sejak September 2006 dan dikirim dalam bentuk paket ke sebuah balai kesenian di Paris.

Sejumlah paket itu akhirnya disita oleh petugas bea cukai di Bandar Udara Roissy Charles de Gaulle, Paris. Setelah diidentifikasi oleh Pusat Nasional untuk Penelitian Ilmiah, barang-barang tersebut merupakan hasil jarahan yang diperoleh dari pemakaman di Lembah Indus, Pakistan.
Sementara, pengiriman lain berupa tembikar dan kerajinan tangan dari tanah liat yang juga hendak dikirim ke balai kesenian yang sama berhasil dihentikan dua pekan kemudian.

Tak hanya itu, petugas bea cukai bandara juga berhasil menyita ratusan potong keramik lainnya.

Menurut penuturan pejabat Prancis, pihaknya mungkin akan dikenai denda sekitar €100 ribu (Rp 1,5 juta) hingga €200 ribu (Rp 3,1 juta) karena hendak menerima warisan curian milik Pakistan itu.

Sementara itu, seorang spesialis arkeologi Asia Selatan, Aurore Didier, mengatakan sejumlah artefak di Provinsi Baluchistan di selatan Pakistan kerap kali dicuri sehingga mengakibatkan wilayah tersebut kesulitan mengumpulkan data antropologis terkait orang-orang yang pernah tinggal di sana.

"Ini bukan hanya penyelundup rakus yang melakukannya melainkan juga pasar seni internasional. Penjarahan seperti ini dulunya lazim terjadi di wilayah Baluchistan," ujar Didier.

Insiden pencurian barang bersejarah ini juga telah menarik perhatian Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Macron telah berupaya mengembalikan semua karya seni kuno itu ke negara asalnya.

[Gambas:Video CNN]

Pada November lalu, Macron bahkan berencana mengembalikan puluhan benda-benda bersejarah di sejumlah museum Prancis ke Benin, wilayah bekas jajahan Prancis.

Selain itu, sejumlah artefak juga telah dikembalikan ke Peru pada tahun ini.

Sementara, sejak 2014 hingga 2017, lebih dari 250 barang antik milik Mesir yang ditemukan di koper seorang warga Inggris yang sedang bepergian ke London telah dikembalikan ke Kairo. (ajw/ayp)