Kapal Terbalik di Pantai Tunisia, 80 Imigran Diduga Tenggelam

CNN Indonesia | Jumat, 05/07/2019 09:48 WIB
Kapal Terbalik di Pantai Tunisia, 80 Imigran Diduga Tenggelam Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
Jakarta, CNN Indonesia -- Puluhan orang dilaporkan tenggelam setelah kapal mereka terbalik di lepas pantai Tunisia, Afrika. Sumber pemerintahan pada Kamis (4/7) mengatakan Kapal tersebut berisikan imigran yang berusaha mencapai Eropa lewat Libya.

Badan PBB untuk pengungsi UNHCR mengatakan lebih dari 80 orang dikhawatirkan tenggelam.

Utusan Khusus UNHCR untuk Mediterania Vincent Cochetel mengatakan nelayan Tunisia berhasil menyelamatkan empat korban namun satu di antaranya meninggal di rumah sakit.

"Tidak ada orang yang mau mempertaruhkan jiwa mereka dan keluarga dalam perjalanan kapal yang putus asa ini kecuali tidak punya pilihan. Kita mesti memberi pilihan jalan untuk mereka. "


Dilansir Reuters, salah satu imigran yang berhasil selamat mengatakan kepada penjaga pantai bahwa kapal mereka tenggelam di kota Zarzis.

Sumber di pemerintahan menyebut kelompok imigran Afrika yang diselamatkan sembilan mil dari kota Zarzis memberi tahu penjaga pantai bahwa mereka telah berangkat dari Zuwara di Libya, dan puluhan lainnya tenggelam.

Pantai barat Libya adalah titik keberangkatan utama bagi para imigran Afrika yang berusaha mencapai Eropa, meskipun jumlahnya telah menurun karena upaya penghalauan yang dipimpin Italia dengan penjaga ketat pantai Libya.

Meskipun pertempuran di Libya membuat situasi lebih sulit bagi sindikat perdagangan manusia, para pejabat bantuan internasional memperingatkan bahwa hal itu juga dapat mendorong banyak orang Libya meninggalkan negaranya.

Pada Rabu waktu setempat kemarin, sebuah pusat detensi imigran di Tripoli, Libya, menjadi sasaran serangan udara. Akibatnya, jumlah korban meninggal dalam kejadian itu dilaporkan mencapai 40 orang dan 80 lainnya luka-luka.

Seperti dilansir Associated Press, Pemerintah Libya yang didukung PBB menyatakan serangan itu dilakukan oleh Pasukan Nasional Libya (LNA) yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar. Haftar mendukung pemerintahan tandingan yang dibentuk di Benghazi.

[Gambas:Video CNN]
(dea/dea)