Inggris dan Jerman Desak Iran Batalkan Pengayaan Uranium

CNN Indonesia | Minggu, 07/07/2019 22:04 WIB
Inggris dan Jerman Desak Iran Batalkan Pengayaan Uranium Badan Energi Atom Iran menyatakan pengayaan uranium hingga 5 persen bukan untuk senjata nuklir melainkan untuk pembangkit listrik. (REUTERS/Morteza Nikoubazl)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Iran memutuskan akan melakukan proses pengayaan uranium hingga mencapai lima persen, melebihi batas yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir (JCPOA) yang diteken pada 2015. Jerman dan Inggris yang turut menandatangani kesepakatan itu meminta Iran tetap mematuhi perjanjian.

"Kami sangat prihatin atas pengumuman Iran yang menyatakan memulai pengayaan uranium di atas 3,67 persen. Kami mendesak Iran untuk menghentikan segala kegiatan yang bertentangan dengan perjanjian," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Jerman, seperti dilansir Reuters, Minggu (7/7).


Jerman menyatakan tengah berkoordinasi dengan negara-negara yang ikut meneken kesepakatan itu, Inggris dan Prancis, untuk memutuskan langkah selanjutnya.


Sedangkan Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan Iran sudah melanggar perjanjian nuklir.

"Walau Inggris masih tetap menaati perjanjian, Iran harus segera menghentikan segala kegiatan yang bertentangan dengan kewajiban mereka. Kami berkoordinasi dengan anggota JCPOA untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Inggris.

Sementara itu, Iran menyatakan tetap bersikap seperti itu jika negara-negara yang turut menandatangani perjanjian tersebut tidak bersikap membela mereka dari sanksi Amerika Serikat.


Sebelum meneken perjanjian pada 2015 silam, Iran sudah berhasil melakukan pengayaan uranium sebesar 20 persen. Sedangkan tingkat pengayaan uranium yang dianggap bisa menjadi bahan pembuat senjata nuklir berada pada 90 persen.

Kepala Badan Energi Atom Iran, Behrouz Kamalvandi, menyatakan mereka akan melanjutkan pengayaan uranium hingga 5 persen. Dia beralasan keputusan itu diambil bukan untuk membuat senjata nuklir, tetapi untuk memasok bahan bakar bagi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr.

"Kami sudah mempersiapkan untuk memperkaya uranium dalam tingkat dan jumlah berapapun," ujar Kamalvandi.

Menteri Luar Negeri Iran, Muhammad Javad Zarif, kembali menyatakan mereka akan baru mau menaati lagi isi perjanjian itu, jika negara-negara Eropa yang ikut menandatangani mau membela mereka dari sanksi AS.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menilai langkah Iran itu tak ada lain kecuali bertujuan mengembangkan senjata nuklir.

"Ini adalah langkah berbahaya. Iran sudah melanggar janji yang mereka buat di bawah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk tidak memperkaya uranium pada tingkat tertentu," kata Netanyahu.

[Gambas:Video CNN]

(ayp/ayp)