"(Penyitaan) itu melanggar aturan internasional dan sebuah pembajakan," kata Hatami di Pelabuhan Bandar Abbas, selatan Iran, seperti dikutip kantor berita semi-pemerintah ISNA dan Tasnim, Senin (8/7).
Kapal supertanker Grace 1 di Gibraltar. (REUTERS/Jon Nazca) |
Penyitaan dilakukan oleh otoritas Inggris atas permintaan Amerika Serikat. Gibraltar merupakan wilayah kedaulatan Kerajaan Inggris yang berada di lepas pantai selatan Spanyol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, juga meminta Inggris melepas kapal tanker mereka. Menurut dia tindakan Inggris sangat berbahaya.
"Iran bukan anggota atau subjek embargo minyak Uni Eropa. Setahu saya, Uni Eropa menentang praktik ekstrateritorial. Penyitaan tidak sah tanker Iran oleh Inggris dan atas permintaan 'Tim B' adalah pembajakan. Sederhana saja. Ini menjurus ke situasi berbahaya dan harus berakhir sekarang juga," cuit Zarif melalui akun Twitter.
Yang dimaksud Tim B oleh Zarif adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump beserta penasihat bidang pertahanan dan keamanan John Bolton, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman.
[Gambas:Twitter]
Mahkamah Agung Gibraltar juga memutuskan akan memperpanjang penahanan kapal tersebut untuk 14 hari ke depan.
Insiden penyitaan ini terjadi ketika ketegangan Iran dan negara Barat, terutama AS, kian memburuk setelah Teheran kembali melakukan pengayaan uranium dan program nuklirnya.
[Gambas:Video CNN]
Langkah tersebut dilakukan Iran sebagai respons atas keputusan AS yang keluar dari perjanjian nuklir 2015 dan kembali menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap negaranya. (rds/ayp)
Kapal supertanker Grace 1 di Gibraltar. (REUTERS/Jon Nazca)