Inggris Sita Kapal Tanker, Iran Bersumpah Membalas

CNN Indonesia | Selasa, 09/07/2019 03:31 WIB
Inggris Sita Kapal Tanker, Iran Bersumpah Membalas Kapal supertanker Grace 1. (REUTERS/Jon Nazca)
Jakarta, CNN Indonesia -- Iran menyebut penyitaan sebuah kapal super tanker yang membawa minyak oleh Inggris di lepas pantai Gibraltar, selatan Spanyol, pada pekan lalu merupakan bentuk "pembajakan maritim" yang melanggar hukum Internasional. Menteri Pertahanan Iran, Amir Hatami, berjanji akan membalas penyitaan itu yang ia sebut "tidak akan ditoleransi dan tidak akan berlalu begitu saja".

"(Penyitaan) itu melanggar aturan internasional dan sebuah pembajakan," kata Hatami di Pelabuhan Bandar Abbas, selatan Iran, seperti dikutip kantor berita semi-pemerintah ISNA dan Tasnim, Senin (8/7).
Kapal tanker Iran bernama Grace 1 disita oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris di lepas pantai Gibraltar pada Kamis (4/7) pekan lalu. Kapal itu ditahan karena diduga hendak membawa minyak ke Suriah, yang dianggap telah melanggar sanksi yang ditetapkan oleh Uni Eropa terhadap Iran.
Inggris Sita Kapal Tanker, Iran Bersumpah MembalasKapal supertanker Grace 1 di Gibraltar. (REUTERS/Jon Nazca)
Sebelum disita, Grace 1 disebut sempat melakukan pelayaran mengelilingi Afrika serta Timur Tengah menuju Mediterania. Kapal tersebut memiliki panjang 330 meter dan mampu membawa dua juta barel minyak.

Penyitaan dilakukan oleh otoritas Inggris atas permintaan Amerika Serikat. Gibraltar merupakan wilayah kedaulatan Kerajaan Inggris yang berada di lepas pantai selatan Spanyol.
Teheran menyangkal tudingan tersebut dan mengklaim kapal tanker itu di sita di wilayah perairan internasional.


Kementerian Luar Negeri Iran bahkan memanggil Duta Besar Inggris di Teheran memprotes terhadap penyitaan kapal tanker itu. Kini kapal tersebut masih diamankan oleh otoritas Gibraltar.

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, juga meminta Inggris melepas kapal tanker mereka. Menurut dia tindakan Inggris sangat berbahaya.

"Iran bukan anggota atau subjek embargo minyak Uni Eropa. Setahu saya, Uni Eropa menentang praktik ekstrateritorial. Penyitaan tidak sah tanker Iran oleh Inggris dan atas permintaan 'Tim B' adalah pembajakan. Sederhana saja. Ini menjurus ke situasi berbahaya dan harus berakhir sekarang juga," cuit Zarif melalui akun Twitter.

Yang dimaksud Tim B oleh Zarif adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump beserta penasihat bidang pertahanan dan keamanan John Bolton, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman.



Mahkamah Agung Gibraltar juga memutuskan akan memperpanjang penahanan kapal tersebut untuk 14 hari ke depan.

Insiden penyitaan ini terjadi ketika ketegangan Iran dan negara Barat, terutama AS, kian memburuk setelah Teheran kembali melakukan pengayaan uranium dan program nuklirnya.

[Gambas:Video CNN]

Langkah tersebut dilakukan Iran sebagai respons atas keputusan AS yang keluar dari perjanjian nuklir 2015 dan kembali menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap negaranya. (rds/ayp)