KILAS INTERNASIONAL

Junta Thailand Dibubarkan Hingga Senjata Neo Nazi Italia

CNN Indonesia | Rabu, 17/07/2019 07:59 WIB
Junta Thailand Dibubarkan Hingga Senjata Neo Nazi Italia Perdana Menteri Thailand, Prayut Chan-o-cha. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah peristiwa terjadi di berbagai negara pada Selasa (16/7) kemarin. Mulai dari junta militer Thailand dibubarkan hingga gudang kelompok ekstrem kanan Italia menyimpan berbagai senjata. Semua dirangkum CNNIndonesia.com dalam kilas internasional.


1. Junta Militer Thailand Resmi Dibubarkan

Perdana Menteri Thailand, Prayut Chan-o-cha, secara resmi membubarkan pemerintahan junta militer. Keputusan itu mengakhiri rezim yang mengambil alih kekuasaan dengan mengkudeta pemerintahan mantan PM Yingluck Shinawatra pada 2014 silam.


"Thailand saat ini adalah negara demokratik penuh dengan sistem monarki konstitusional, beserta parlemen yang dipilih rakyat," kata Prayut dalam pidato yang disiarkan secara nasional dari ibu kota Bangkok, seperti dilansir Reuters, Selasa (16/7).

Menurut Prayut, militer terpaksa turun tangan mengambil alih kekuasaan dengan alasan setelah pemilihan umum 24 Maret 2014 terjadi gejolak politik yang cenderung mengarah kepada kerusuhan. Menurut dia militer harus bersikap mengakhiri aksi unjuk rasa selama enam bulan yang diikuti oleh bentrokan.

Raja Thailand, Rama X Vajiralongkorn, pekan lalu merestui pemerintahan Prayut yang dibentuk dari koalisi 19 partai. Meski demikian, posisi pemerintah bukan mayoritas di parlemen.

Selama 15 tahun belakangan, sudah terjadi dua kali kudeta di Thailand. Pertarungan politik yang terjadi adalah kelompok oposisi sipil yang meraih dukungan dari penduduk di kalangan pedesaan melawan rezim yang didukung oleh kerajaan dan militer.


2. AS Batasi Gerak-Gerik Menlu Iran di New York

Pemerintah Amerika Serikat memutuskan membatasi gerak-gerik Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, saat menghadiri undangan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke markas mereka di New York. Hal ini adalah dampak dari perseteruan kedua negara yang sudah terjadi sejak beberapa bulan silam.

Zarif sebenarnya sudah tiba di AS sejak Minggu pekan lalu setelah izin kunjungan itu disetujui Menlu AS, Mike Pompeo. Namun, menurut keterangan Kemenlu AS, Zarif hanya dibolehkan bepergian ke markas PBB, kantor perwakilan Iran untuk PBB, rumah dinas Duta Besar Iran, dan Bandara John F. Kennedy di New York.

AS beralasan pembatasan itu dilakukan karena khawatir Zarif akan menggunakan iklim kebebasan berpendapat untuk menebar propaganda.

[Gambas:Video CNN]

Meski demikian, Zarif masih bisa melakukan wawancara dengan kantor berita Inggris, BBC, dan stasiun televisi AS, NBC, di kediaman Duta Besar Iran di Upper East Side, Manhattan. Menurut Juru Bicara Kemenlu Iran, Abbas Mousavi, agenda kegiatan yang dihadiri Zarif memang hanya diadakan di markas PBB, kantor perwakilan Iran untuk PBB, dan rumah dinas duta besar Iran.

"Menerapkan pembatasan terhadap beliau di New York tidak mempengaruhi agenda kegiatannya," kata Mousavi.

PBB pun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menyatakan turut prihatin terhadap pembatasan yang diterapkan kepada Zarif.


3. Langit Pakistan Kembali Dibuka untuk Penerbangan Sipil

Pemerintah Pakistan memutuskan mencabut larangan bagi penerbangan sipil untuk melintasi ruang udaranya yang diterapkan sejak awal tahun ini. Larangan itu diterapkan saat konflik antara negara itu dan India di Kashmir sempat memanas di awal 2019.

"Ruang udara Pakistan kembali dibuka untuk seluruh penerbangan sipil yang berada dalam jalur Jasa Lalu Lintas Udara (ATS)," demikian isi Pengumuman untuk Awak Penerbangan (NOTAM), seperti dilansir Reuters, Selasa (16/7).

[Gambas:Video CNN]

Pakistan menutup ruang udaranya pada Februari ketika bertikai dengan India. Saat itu India menyerang wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan sebagai balasan atas serangan bom mobil yang menewaskan 40 pasukan paramiliter India.

Wilayah Pakistan berada di jalur penerbangan utama. Larangan melintas sangat berdampak terhadap ratusan penerbangan sipil dan kargo, dan membuat mereka harus memutar lebih jauh yang berdampak terhadap durasi terbang dan biaya yang dikeluarkan untuk bahan bakar.

4. Kelompok neo-Nazi Italia Timbun Senjata hingga Rudal

Kepolisian Italia menggerebek sebuah gudang milik simpatisan neo-Nazi pada Senin (15/7) lalu. Dalam operasi itu mereka menyita sejumlah senjata, termasuk sebuah rudal antar udara.

Selama penggeledahan tersebut, polisi menemukan sebuah rudal antar udara Matra buatan Perancis yang tampaknya pernah dimiliki pasukan bersenjata Qatar. Dalam pemeriksaan lanjutan, rudal tersebut diketahui dalam kondisi dapat digunakan tetapi tidak mempunyai hulu ledak.

Polisi juga melaporkan bahwa para tersangka mencoba untuk menjual rudal tersebut melalui pesan di WhatsApp, seperti dilansir AFP, Selasa (16/7).

Sementara itu, senjata lainnya yang ditemukan di antaranya 26 senapan, 20 bayonet, 306 bagian senjata termasuk peredam suara dan senapan, dan lebih dari 800 peluru berbagai ukuran. Persenjataan tersebut diketahui berasal dari Austria, Jerman dan Amerika Serikat.

Polisi juga turut menyita barang-barang peninggalan Partai Nazi Jerman dari sejumlah properti yang ditemukan. (ayp/ayp)