Boris Johnson Diprediksi Menang, Wamenlu Inggris Mundur

CNN Indonesia | Selasa, 23/07/2019 00:15 WIB
Boris Johnson Diprediksi Menang, Wamenlu Inggris Mundur Wakil Menteri Luar Negeri Inggris, Alan Duncan. (Yui Mok/Pool via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Menteri Luar Negeri Inggris, Alan Duncan, mengundurkan diri dari kabinet pemerintahan beberapa jam sebelum partai berkuasa, Partai Konservatif, mengumumkan pemilihan internal untuk menentukan pengganti Perdana Menteri Theresa May, Senin (22/7).

Sampai saat ini, Borris Johnson yang merupakan mantan menlu Inggris digadang-gadang menjadi calon kuat pengganti May.
Duncan merupakan pendukung usulan May yang menginginkan Inggris untuk tetap berhubungan dekat dengan Uni Eropa pasca keluar dari blok tersebut (Brexit).

Dilansir Reuters, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris membenarkan Duncan telah menyerahkan surat pengunduran diri.


Duncan merupakan salah satu pengkritik Johnson yang mendukung Brexit tanpa kesepakatan apa pun dengan Uni Eropa (no deal). Ia bahkan mengundurkan diri dari kursi menlu pada 2018 lalu karena berselisih paham dengan May terkait Brexit.

Keputusan Duncan untuk mundur pun semakin memperkuat asumsi bahwa Johnson yang bakal menjadi perdana menteri Inggris yang baru sekaligus pemimpin Partai Konservatif.

Sebelum Duncan, Menteri Kebudayaan Inggris, Margot James, telah lebih dulu menyatakan mengundurkan diri. James menganggap janji Johnson untuk membawa Inggris keluar Uni Eropa tanpa kesepakatan pada 31 Oktober mendatang merupakan "langkah cukup luar biasa" untuk melawan para pebisnis.
Pada Minggu akhir pekan lalu, Menteri Keuangan, Philip Hammond, menuturkan dia juga akan mengundurkan diri dari pemerintahan jika Johnson menang. Ia memilih untuk mundur dari pada dipecat oleh Johnson.

Hammond berjanji akan bertarung untuk menghentikan proses kesepakatan Brexit tanpa kesepakatan dengan Uni Eropa.

Hasil jajak pendapat Partai Konservatif akan rampung pada Senin malam waktu London. Jika survei benar, Johnson akan langsung menggantikan tugas May sebagai PM pada Rabu (22/7).

[Gambas:Video CNN]

Salah satu tantangan terbesar perdana menteri baru nanti adalah menyelesaikan proses negosiasi Brexit dengan parlemen yang berlarut-larut sebelum tenggat yang ditetapkan Uni Eropa pada 31 Oktober mendatang. (rds/ayp)